Caption : ist (Dok. TheAsianParents)
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Fenomena maraknya kasus bunuh diri akhir-akhir ini membuat Provinsi Lampung menjadi sorotan pemberitaan. Terhitung dalam satu pekan saja terdapat 8 kasus bunuh diri.
Yang terbaru terjadi di Kelurahan Gedong Meneng, Kecamatan Rajabasa di Jalan Prof Dr Soemantri tepatnya di Belakang ATM Center Unila. Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung ditemukan rekannya meninggal dunia dengan cara gantung diri di belakang kebun kosan milik korban.
Teman korban, Perdana mengatakan, korban ditemukan sekitar pukul 06.45 WIB di gubuk kosong belakang kosan. Korban diketahui berinisial E (24).
“Jadi kemaren Jumat 26 Juli 2024 sore, dia ini udah ngilang nggak ada kabar, di chat ditelpon udah nggak ada kabar lagi, motor sama sepatunya masih ada di kosan saya,” katanya.
Dikarenakan tidak ada kabar dari korban, dirinya pun berinisiatif untuk mencari korban disekitar kosan miliknya.
“Jadi saya kepikiran inisiatif nyari dia disekitar kosan, dan ternyata ketemu di gubuk belakang kosan, ternyata temen saya udah meninggal dunia,” ungkapnya.
Lanjut Perdana, dirinya pun langsung meminta bantuan teman lainnya dan melaporkan kepada pihak Kepolisian dari Polsek Kedaton.
Diketahui, sudah ada 8 kasus bunuh diri tersebut, ada 7 korban meninggal dunia dan satu korban selamat, namun harus kehilangan satu lengan kanannya. Enam korban di antaranya berjenis kelamin laki laki dan dua korban perempuan.
Kasus bunuh diri terjadi pertama kali di Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan, pada Jumat (19/7). Korbannya seorang pria berinisial M (38), ditemukan tewas gantung diri.
Kasus serupa menimpa pemuda berusia 25 tahun, pemuda setempat ini berusaha menabrakkan dirinya ke Gerbong Kereta Api di Bawah Fly Over Pahoman pada Senin (22/7). Akibatnya korban mengalami putus tangan sebelah kanan karena terlindas kereta api.
Peristiwa bunuh diri berikutnya terjadi di Kabupaten Lampung Timur, dua korban berinisial EP (34) dan J (42) ditemukan tewas gantung diri di dua lokasi yang berbeda, pada Selasa (23/7), seperti dilansir Detik.
EP meregang nyawa diduga karena depresi setelah diceraikan dan tak terima sang istri telah kembali menikah. Sementara, korban J bunuh diri diduga karena frustasi terlilit utang piutang.
Selanjutnya, kejadian bunuh diri kembali terjadi di Kota Bandar Lampung, seorang siswa SMP berinisial AR (16) ditemukan tewas gantung diri di dalam rumahnya di Kecamatan Sukarame.
Sementara, Psikolog Rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampung, Retno A Riani mengatakan fenomena bunuh diri di masyarakat seperti gunung es. Dia pun sangat prihatin atas kondisi tersebut.
“Istilahnya fenomena gunung es, makin lama jumlahnya makin besar, biasanya ini memang persoalannya banyak,” jelasnya.
“Persoalannya banyak, antara lain depresi, karena gangguan bipolar, kemudian karena terhimpit hutang juga bisa. Utamanya dari sekian banyak kasus itu karena tidak mampu menyelesaikan konflik terhadap permasalahan yang korban hadapi dengan baik, sehingga mengambil jalan itu,” katanya. (*)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT






