Trump Ciduk Presiden Venezuela, Sekjen PBB Angkat Bicara!

- Editor

Minggu, 4 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caption : Sekjen PBB Antonio Gutteres (Dok. Reuters)

Hariannarasi.com, New York – Dunia internasional hari ini terbangun dengan kabar yang mengguncang tatanan diplomasi global. Pasukan militer Amerika Serikat secara resmi melancarkan serangan kilat ke Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Langkah drastis ini tak pelak memicu alarm di markas besar PBB, New York. 

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, melalui juru bicaranya Stephane Dujarric, menyatakan keprihatinan yang mendalam. Bagi Guterres, ini bukan sekadar urusan domestik satu negara, melainkan ancaman serius terhadap stabilitas kawasan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Terlepas dari apa pun situasi internal di Venezuela, perkembangan ini menciptakan preseden yang sangat berbahaya,” tegas Dujarric pada Minggu (4/1/2026).

Dibalik bahasa diplomatik yang terukur, pesan Guterres jelas, tindakan sepihak (unilateral) AS telah menabrak batas-batas hukum internasional dan Piagam PBB yang selama ini menjadi kompas perdamaian dunia.

​Operasi senyap yang berlangsung pada Sabtu (3/1) dini hari itu merupakan kulminasi dari perseteruan panjang antara Washington dan Caracas. Di bawah komando Presiden Donald Trump, AS secara konsisten mendelegitimasi Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah.

​Trump melegitimasi serangan ini dengan narasi perang melawan narkoba. Ia menuding Maduro bukan lagi seorang negarawan, melainkan otak di balik kartel narkoba yang bertanggung jawab atas ribuan kematian warga Amerika.

Meski AS membingkai aksi ini sebagai langkah penegakan keadilan, para pakar hukum internasional mulai menyuarakan kegelisahan.

Catatan sejak September 2025 menunjukkan agresi yang meningkat:

  • 30 Serangan militer di perairan Karibia dan Pasifik.
  • Lebih dari 100 nyawa melayang dalam operasi terhadap kapal-kapal yang dicurigai sebagai penyelundup.

​Kini, dengan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, berada dalam tahanan otoritas AS, dunia menunggu apakah hukum internasional masih memiliki taji, ataukah kita sedang memasuki era baru di mana kekuatan militer menjadi hukum itu sendiri.

Sejarah akan mencatat apakah langkah Trump ini adalah bentuk pemberantasan kriminalitas lintas negara atau justru lonceng kematian bagi kedaulatan sebuah bangsa di abad ke-21. (*)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Apa Jadinya Jika Militer Menguasai Ekonomi? Berkaca pada Kehancuran Ekonomi di 6 Negara! 
Lulus Sekolah Langsung Kuliah dan Kerja di Korea? Simak Gebrakan Baru Pemprov Lampung Ini!
Gempa M 7,5 Guncang Venezuela, USGS Prediksi Korban Tewas Hingga 100 Ribu Jiwa
Prediksi Bola Jordan vs Algeria 23 Juni 2026: Duel di Grup J Piala Dunia 2026
Buntut Serangan Israel ke Lebanon, Iran Umumkan Penutupan Selat Hormuz
Usai Kapal Bantuan Gaza Dicegat Israel, Jurnalis Asal Lampung Hilang Kontak!
Anies Baswedan Ditunjuk Jadi Dewan Penasihat Kota Riyadh, Bagikan Pengalaman Transportasi Jakarta
Sempat Dipanggil Polda Sumut, Lagu Viral Siti Mawarni Ya Incek Dipakai Klub Borussia Dortmund
Berita ini 47 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 19 Juli 2026 - 07:17 WIB

Apa Jadinya Jika Militer Menguasai Ekonomi? Berkaca pada Kehancuran Ekonomi di 6 Negara! 

Selasa, 30 Juni 2026 - 16:07 WIB

Lulus Sekolah Langsung Kuliah dan Kerja di Korea? Simak Gebrakan Baru Pemprov Lampung Ini!

Kamis, 25 Juni 2026 - 19:38 WIB

Gempa M 7,5 Guncang Venezuela, USGS Prediksi Korban Tewas Hingga 100 Ribu Jiwa

Minggu, 21 Juni 2026 - 19:07 WIB

Prediksi Bola Jordan vs Algeria 23 Juni 2026: Duel di Grup J Piala Dunia 2026

Minggu, 21 Juni 2026 - 11:59 WIB

Buntut Serangan Israel ke Lebanon, Iran Umumkan Penutupan Selat Hormuz

Berita Terbaru

PEMERINTAHAN

Kepala BGN Tutup Permanen 833 Dapur MBG akibat Masalah Higienitas

Senin, 27 Jul 2026 - 12:11 WIB