Caption : Ist (Dok. Reuters)
Hariannarasi.com, Jakarta –Wilayah otonom Bougainville yang secara geografis berdekatan dengan Indonesia bagian timur, secara resmi menetapkan target untuk meraih kemerdekaan penuh dari Papua Nugini (PNG) pada tahun 2030.
Peta geopolitik di kawasan Pasifik dipastikan akan berubah seiring dengan rencana transisi wilayah berpenduduk 370.000 jiwa tersebut menjadi negara berdaulat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Presiden Bougainville, Ishmael Toroama, mengumumkan batas waktu politis yang tegas bagi wilayahnya untuk berpisah dari PNG.
Ia menjelaskan, Pemerintah Otonom Bougainville akan terlebih dahulu memasuki fase pemerintahan mandiri (self-government) pada 1 September 2027, sebelum mendeklarasikan kemerdekaan penuh tiga tahun setelahnya.
Toroama menegaskan, keputusan ini memiliki landasan hukum yang kuat dan telah disepakati melalui jalan panjang negosiasi damai selama lebih dari dua dekade.
”Posisi ini tidak didasarkan pada emosi atau kenyamanan semata. Ini berakar kuat pada Perjanjian Perdamaian Bougainville, Bagian XIV Konstitusi Papua Nugini, serta komitmen resmi yang telah menjaga perdamaian hingga saat ini,” tegas Toroama dalam keterangannya yang dikutip pada Minggu (30/8/2026).
Sebagai pilar utama tuntutan kemerdekaan, pemerintah Bougainville merujuk pada hasil referendum yang mayoritas warganya memilih untuk merdeka, serta serangkaian kesepakatan bersama seperti Komunike Bersama 11 Januari 2021 dan Perjanjian Melanesia.
Memasuki fase persiapan hingga September 2027, Bougainville akan memfokuskan kinerjanya pada penguatan institusi, tata kelola pemerintahan, keamanan, serta kesiapan ekonomi.
Mulai 1 September 2027, wilayah yang terdiri dari dua pulau utama ini akan mengambil alih kewenangan tambahan sesuai Pasal 289 Konstitusi PNG sebagai ekspresi konstitusional tertinggi sebelum sah menjadi negara merdeka pada 2030.
Di tengah proses transisi tersebut, Presiden Toroama memastikan bahwa Bougainville berkomitmen untuk terus menjaga hubungan persahabatan dan kerja sama bilateral dengan Pemerintah Papua Nugini.
Ia juga mengimbau masyarakat Bougainville agar tetap bersabar, bersatu, dan menjaga stabilitas keamanan yang telah terbangun. (*)






