Caption : Istimewa
Hariannarasi.com, Jakarta – Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Republik Indonesia mengalokasikan anggaran sebesar Rp 1,064 triliun untuk program pendidikan bela negara bagi calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih.
Dana triliunan rupiah tersebut digunakan untuk membiayai pelatihan puluhan ribu peserta selama 45 hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Direktur Jenderal Perencanaan Pertahanan Kemenhan, Mayor Jenderal I Gusti Ngurah Wisnu Wardana, menyebutkan, rata-rata biaya yang dihabiskan untuk setiap peserta adalah sekitar Rp 30 juta.
Biaya per individu tersebut telah mencakup seluruh tahapan seleksi, perlengkapan perorangan lapangan (pakaian seragam), biaya pendidikan, perjalanan dinas, hingga pemberian uang saku kepada peserta sebesar Rp 1,5 juta.
“Jadi itu digunakan untuk banyak hal, ya,” ujar Wisnu saat ditemui di Kantor Kemenhan, Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Terkait sumber dana, Wisnu memastikan bahwa anggaran program pelatihan ini diajukan secara terpisah ke Kementerian Keuangan.
Ia menegaskan, program ini tidak memangkas atau membebani Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) belanja rutin pertahanan di Kemenhan maupun TNI.
Program pendidikan bagi para calon manajer Kopdes dan kampung nelayan ini telah berlangsung selama 45 hari, yakni sejak 17 Juni hingga 31 Juli 2026.
Skema pelatihan dibagi menjadi dua tahap, yaitu 30 hari latihan dasar militer atau bela negara, dilanjutkan dengan 15 hari pelatihan manajerial.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Pertahanan Kemenhan, Mayor Jenderal Ketut Gede Wetan Pastia, memaparkan rincian jumlah peserta dalam program ini.
Dari target awal sebanyak 35.476 orang, peserta yang hadir mengikuti pelatihan berjumlah 33.846 orang. Sementara itu, 1.369 orang lainnya tercatat tidak hadir sejak program dibuka.
Dari total puluhan ribu peserta yang mengikuti pelatihan, sebanyak 33.785 calon manajer dinyatakan lulus.
”Jadi memang ada 61 rekan-rekan ini tidak bisa lanjut karena berbagai alasan,” ungkap Ketut menjelaskan adanya peserta yang gugur di tengah jalan akibat masalah kesehatan hingga mengundurkan diri. (*)






