China Naik Pitam ke Tetangga RI: Sewa Saat Rugi, Rebut Lagi Saat Untung?

- Editor

Minggu, 1 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caption : ist

Hariannarasi.com, Jakarta – Duta Besar China untuk Australia, Xiao Qian, menyampaikan peringatan keras kepada pemerintah Australia terkait rencana pengambilalihan kendali Pelabuhan Darwin yang saat ini dikelola oleh perusahaan China, Landbridge Group, berdasarkan perjanjian sewa 99 tahun sejak 2015. 

Xiao Qian mengkritik langkah tersebut sebagai tindakan tidak etis dan melanggar prinsip kerja sama ekonomi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menyatakan, “Ketika Anda merugi, Anda ingin menyewakannya kepada perusahaan asing, dan ketika pelabuhan itu menghasilkan uang, Anda ingin mengambilnya kembali?,” ujarnya.

Duta besar tersebut menegaskan, Beijing tidak akan tinggal diam dan siap mengambil langkah konkret untuk melindungi kepentingan sah perusahaan China jika perjanjian diubah secara sepihak.

“Kami akan melihat kapan waktunya bagi kami untuk mengatakan sesuatu, melakukan sesuatu, guna mencerminkan posisi pemerintah China dan melindungi kepentingan sah perusahaan-perusahaan China kami,” ujar Xiao Qian.

Pelabuhan Darwin telah dikuasai Landbridge Group milik pengusaha China Ye Cheng sejak 2015 melalui kesepakatan senilai 350 juta dolar AS.

Rencana pengambilalihan oleh Australia muncul dari janji Perdana Menteri Anthony Albanese selama kampanye pemilu sebelumnya, dengan alasan kepentingan nasional dan kedaulatan.

Sejumlah tinjauan pemerintah Australia, termasuk yang dilakukan atas perintah Albanese, menyimpulkan tidak ada dasar hukum kuat untuk membatalkan atau mengubah perjanjian tersebut, meskipun isu keamanan nasional pernah menjadi perdebatan.

Hubungan bilateral Australia-China tetap tegang di tengah nilai perdagangan bilateral mencapai 218 miliar dolar AS (Rp 3.662,4 triliun). Ketegangan ini menjadi babak baru dalam hubungan Canberra dan Beijing yang sebelumnya telah terjadi berbagai sengketa diantara mereka.

Diketahui, Pada 13 Oktober 2015, pemerintah NT menandatangani perjanjian sewa 99 tahun dengan Landbridge Group senilai A$506 juta (sekitar Rp5,5 triliun pada kurs saat itu).

Kesepakatan ini memberikan Landbridge kontrol operasional 100% atas pelabuhan serta kepemilikan 80% atas lahan dan fasilitas utama seperti East Arm Wharf (termasuk pangkalan suplai marinir) dan Fort Hill Wharf.

Pemerintah NT mempertahankan 20% kepemilikan saham di bisnis pelabuhan dan hak atas 15% keuntungan super (super profits). Landbridge juga berkomitmen menginvestasikan A$200 juta selama 25 tahun untuk pengembangan, sewa efektif mulai 16 November 2015 dan berakhir pada 15 November 2114. (*)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Intelijen Iran Unit 4.000 IRGC Bidik Pelabuhan Tanjung Priok, Tiga WNI Dilaporkan Direkrut
Aniaya Staf, Istri Presiden RI Pertama Ini Dituntut Jaksa Tokyo Denda Rp22,8 Juta! 
Cari Celah Ubah Konstitusi, Trump Ambisi Jadi Presiden 3 Periode!
Klaim Kuasai Selat Hormuz, Trump Usul Ubah Nama Jadi ‘Selat Trump’
Siap-siap, Ada Negara Baru Dekat Indonesia yang Segera Lahir!
Diserbu Kolektor, Koin 1 Dollar Berwajah Trump Ludes Hanya dalam Hitungan Jam
Niat Hati Jadi Satpam, 8 WNI Malah Terjebak Loker Jadi Tentara Rusia!
Apa Jadinya Jika Militer Menguasai Ekonomi? Berkaca pada Kehancuran Ekonomi di 6 Negara! 
Berita ini 31 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 13:16 WIB

Intelijen Iran Unit 4.000 IRGC Bidik Pelabuhan Tanjung Priok, Tiga WNI Dilaporkan Direkrut

Rabu, 9 September 2026 - 15:33 WIB

Aniaya Staf, Istri Presiden RI Pertama Ini Dituntut Jaksa Tokyo Denda Rp22,8 Juta! 

Kamis, 3 September 2026 - 05:40 WIB

Cari Celah Ubah Konstitusi, Trump Ambisi Jadi Presiden 3 Periode!

Kamis, 3 September 2026 - 05:31 WIB

Klaim Kuasai Selat Hormuz, Trump Usul Ubah Nama Jadi ‘Selat Trump’

Kamis, 3 September 2026 - 05:22 WIB

Siap-siap, Ada Negara Baru Dekat Indonesia yang Segera Lahir!

Berita Terbaru