Tantangan 2026: Gubernur Mirza Minta Bank Lampung Geser Fokus dari Laba ke Sektor Riil

- Editor

Senin, 12 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caption : ist

Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Dibalik dinginnya pendingin ruangan Aula Lantai 4 Kantor Pusat Bank Lampung, Senin (12/1), sebuah pesan hangat namun tegas disampaikan Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal. 

Dihadapan jajaran direksi dan komisaris, Gubernur Mirza sapaan akrabnya, menanggalkan paradigma lama perbankan daerah, angka di neraca tidak lagi menjadi satu-satunya kiblat keberhasilan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

​Dalam Rapat Koordinasi (Rakor) PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Lampung tersebut, Gubernur memberikan “cambuk” motivasi agar bank pelat merah ini keluar dari zona nyaman.

“Laba Bank Lampung sudah sangat baik. Tapi 2026 kita harus melompat. Bank Lampung tidak boleh hanya bagus di neraca, tapi harus besar manfaatnya bagi masyarakat,” tegas Gubernur.

​Analisis Gubernur Mirza menukik pada peran vital Bank Lampung sebagai benteng ekonomi daerah. Dengan dana pemerintah daerah yang berputar mencapai Rp32 triliun per tahun, Bank Lampung memegang kunci untuk memastikan likuiditas tersebut tidak “lari” ke luar daerah.

Logikanya sederhana namun krusial, jika dana ini mengendap di bank nasional atau bank lain, multiplier effect-nya bisa jadi dinikmati wilayah lain. Namun, jika dikelola Bank Lampung, darah segar ekonomi itu akan tetap berdenyut di Bumi Ruwa Jurai.

​”Kalau dana ini disimpan di bank lain, uang Lampung bisa mengalir ke luar daerah. Tapi jika dikelola Bank Lampung, maka perputaran dan dampaknya akan kembali ke Lampung,” urainya.

Koreksi atas Dominasi Kredit Konsumtif

Secara fundamental, kinerja Bank Lampung tahun 2025 sejatinya cukup mentereng. Aset tumbuh, dana pihak ketiga (DPK) naik, dan laba melonjak hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya dengan rasio kecukupan modal (CAR) yang sangat sehat.

​Namun, mata jeli Gubernur menangkap ketimpangan dalam portofolio kredit. Komposisi kredit masih terlalu didominasi oleh sektor konsumtif (biasanya pinjaman pegawai), sementara kredit mikro dan produktif justru melambat. Bagi Gubernur, ini belum sejalan dengan agenda penguatan ekonomi riil.

​Tahun 2026 dicanangkan sebagai tahun pergeseran fokus. Bank Lampung diminta turun gunung, menyentuh sektor riil, terutama di pedesaan yang menjadi tulang punggung ekonomi provinsi. Pertanian, UMKM, dan industri kecil harus menjadi prioritas, bukan sekadar pelengkap laporan tahunan.

​”Bank Lampung harus hadir sebagai motor penggerak ekonomi Lampung, bukan hanya sebagai bank yang untung, tetapi bank yang berdampak,” ujar Gubernur menutup arahannya.

​Merespons arahan tersebut, Direktur Utama Bank Lampung, Indra Merviana, menegaskan kesiapannya. Ia menyebut tahun 2025 sebagai tahun fondasi, di mana transformasi budaya kerja SIPIL (Sinergi, Integritas, Profesional, Inovatif, Loyal) telah ditanamkan.

Indra melaporkan capaian historis laba bersih tahun 2025 yang menembus angka Rp200 miliar, rekor tertinggi sepanjang sejarah bank, ditambah pendapatan fee-based dari layanan digital sebesar Rp38 miliar.

​Menyongsong usia ke-60 di tahun 2026, manajemen Bank Lampung menyatakan siap “tancap gas”. Target pertumbuhan kredit dipatok sebesar 8,5 persen, DPK 7,69 persen, dan laba ditargetkan menyentuh Rp225 miliar.

​”Kami tidak ingin lagi terlalu bergantung pada kredit konsumtif. Arah kami jelas, memperkuat UMKM dan sektor produktif agar sejalan dengan pembangunan daerah,” tegas Indra.

​Strategi ini akan diperkuat melalui sinergi Kelompok Usaha Bank (KUB) dengan Bank Jatim, yang mencakup penguatan likuiditas, SDM, hingga infrastruktur teknologi informasi dan keamanan siber.

Pekerjaan Rumah

​Rakor ini diakhiri dengan mandat konkret. Gubernur meminta peta jalan (roadmap) penyaluran kredit produktif yang terukur, digitalisasi yang menyentuh desa, serta sistem reward and punishment yang jelas bagi para kepala cabang berdasarkan potensi ekonomi wilayahnya.

​Hadirnya tokoh-tokoh kunci seperti Ketua DPRD Lampung Ahmad Giri Akbar, Sekdaprov Marindo Kurniawan, dan Komisaris Utama M. Firsada, menegaskan bahwa transformasi Bank Lampung bukan sekadar wacana korporasi, melainkan agenda strategis seluruh elemen pemerintahan di Lampung.

Tahun 2026 akan menjadi ujian pembuktian: mampukah Bank Lampung bertransformasi dari sekadar “bank pegawai” menjadi mesin pertumbuhan ekonomi rakyat yang sesungguhnya? (*)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Pacu Pertumbuhan Ekonomi, Pemprov Lampung Dorong Optimalisasi KUR dan Literasi Keuangan
Presiden Prabowo Buka Munas HIPMI ke XVIII di Bandar Lampung, Tekankan Ekonomi Kerakyatan
Gubernur Mirza: Munas HIPMI di Lampung Bawa Energi Baru bagi Pengusaha Muda
Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter! Pertalite dan Biosolar?
Bukan Sekadar Lumbung Pangan, Lampung Bersiap Jadi Raksasa Energi Hijau Nasional!
Pangkas Puluhan Bank! OJK Resmi Setujui Merger 57 BPR Jadi 18 Bank
Rupiah Cetak Rekor Terburuk Sepanjang Masa di Level Rp18.000, Ini Biang Keroknya!
Punya Tunggakan? Pahami 9 Aturan OJK Agar Terlindungi dari Arogansi Debt Collector!
Berita ini 21 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 06:56 WIB

Pacu Pertumbuhan Ekonomi, Pemprov Lampung Dorong Optimalisasi KUR dan Literasi Keuangan

Rabu, 10 Juni 2026 - 13:58 WIB

Presiden Prabowo Buka Munas HIPMI ke XVIII di Bandar Lampung, Tekankan Ekonomi Kerakyatan

Rabu, 10 Juni 2026 - 05:59 WIB

Gubernur Mirza: Munas HIPMI di Lampung Bawa Energi Baru bagi Pengusaha Muda

Rabu, 10 Juni 2026 - 05:46 WIB

Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter! Pertalite dan Biosolar?

Selasa, 9 Juni 2026 - 07:36 WIB

Bukan Sekadar Lumbung Pangan, Lampung Bersiap Jadi Raksasa Energi Hijau Nasional!

Berita Terbaru

Bandar Lampung

Mahasiswa BEM se-Lampung Demo, Desak Penghentian Program MBG dan KDMP!

Senin, 15 Jun 2026 - 15:07 WIB