Caption : Ist
Hariannarasi.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menembus rekor terendah sepanjang sejarah dengan menyentuh level psikologis Rp18.000 pada Kamis (4/6/2026) pagi.
Pelemahan ini dipicu oleh tingginya arus modal asing yang keluar dari Indonesia serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan data Investing pada pukul 06.45 WIB, nilai tukar mata uang Garuda berada di posisi Rp18.015 per dolar AS. Bahkan, data Google Finance pada malam sebelumnya menunjukkan kurs sempat mencapai Rp18.022 per dolar AS.
Meski begitu, pada pergerakan siang hari, rupiah perlahan berbalik menguat ke kisaran Rp17.900 per dolar AS.
Chief Economist Bank Tabungan Negara (BTN) Myrdal Gunarto menyatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah ditekan oleh kombinasi faktor domestik dan eksternal.
”Tekanan terhadap rupiah hari ini berasal dari kombinasi keluarnya dana asing dari pasar keuangan Indonesia, berkurangnya pasokan valuta asing (valas) domestik, hingga meningkatnya ketidakpastian global,” jelas Myrdal.
Menurut Myrdal, ketegangan geopolitik mendorong investor global untuk mengalihkan dananya dari negara berkembang (emerging market) ke negara maju (developed market) yang dianggap memiliki risiko lebih rendah.
Selain memburu aset aman (safe haven), investor asing juga merespons evaluasi dari lembaga pemeringkat (rating agency) serta menyoroti arah kebijakan-kebijakan terbaru pemerintah Indonesia.
Derasnya aliran modal asing yang keluar (capital outflow) terlihat jelas di pasar saham domestik. Sepanjang Jumat (29/5/2026), nilai dana asing yang keluar mencapai 478,5 juta dolar AS, dan berlanjut sebesar 78,13 juta dolar AS pada perdagangan Selasa (2/6/2026).
Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah juga sudah menunjukkan tren penurunan dengan ditutup melemah 127,5 poin atau 0,71 persen di level Rp17.966,5 per dolar AS.






