Caption : Ist
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Harga ubi kayu atau singkong di sejumlah pabrik tapioka di Provinsi Lampung dilaporkan melonjak tajam hingga menembus Rp2.000 hingga Rp2.050 per kilogram.
Kenaikan harga yang terjadi dalam tiga bulan terakhir ini jauh melampaui patokan harga sebelumnya yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Lampung di kisaran Rp1.300 per kilogram.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lonjakan harga ini dipicu oleh kelangkaan pasokan bahan baku singkong di tingkat petani. Penurunan pasokan terjadi akibat banyaknya petani yang beralih menanam komoditas lain, seperti jagung dan padi.
Peralihan lahan tersebut merupakan imbas dari anjloknya harga singkong hingga di bawah Rp1.000 per kilogram pada tahun lalu, yang sempat memicu protes dari kalangan petani akibat pendapatan yang tidak sebanding dengan biaya produksi.
Kini, di tengah menurunnya pasokan, kebutuhan bahan baku dari industri tapioka tetap tinggi sehingga mendorong harga beli pabrik naik secara signifikan.
Dinamika harga komoditas lokal ini juga terjadi di tengah gejolak pangan dunia dan menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat, sebuah situasi ekonomi makro yang sebelumnya sempat disinggung oleh Presiden Prabowo Subianto dengan sebutan “orang desa tidak pakai dolar”.
Berdasarkan data terkini di sejumlah sentra pabrik tapioka di Lampung, harga beli singkong bervariasi dengan penerapan sistem potongan kadar air (refaksi). Rincian harga saat ini adalah sebagai berikut:
- GB 7 (Lampung Tengah): Rp2.050/kg dengan potongan 15 persen
- BKM/BX (Lampung Tengah): Rp2.000/kg dengan potongan 12 persen
- Muara Jaya (Lampung Timur): Rp2.050/kg dengan potongan 15 persen
- Sinar Laut Kalicinta (Lampung Utara): Rp1.600/kg dengan potongan 15 persen
Meski harga pembelian di atas kertas tergolong tinggi, para petani di lapangan menyatakan hasil bersih yang mereka terima masih terdampak oleh tingginya persentase potongan refaksi di pabrik.
Selain masalah potongan kadar air, petani juga berharap tren harga tinggi ini tidak bersifat sementara.
Pasalnya, para petani saat ini masih harus menanggung tingginya beban biaya produksi, mulai dari kenaikan harga pupuk, tarif tenaga kerja, hingga kebutuhan pokok sehari-hari. (*)






