Caption : Ist
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Anggota Komisi V DPRD Provinsi Lampung, Andika Wibawa, mendesak pemerintah daerah mengambil langkah konkret untuk menangani lonjakan kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Lampung.
Lonjakan ini dinilai sebagai sinyal lemahnya kontrol dan minimnya edukasi pencegahan dini di masyarakat. “Ini bukan persoalan kecil. Kalau tidak ditangani serius, bisa merusak masa depan generasi kita,” tegas Andika di Bandar Lampung, Kamis (7/5/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Andika menyoroti bahwa kelompok remaja dan mahasiswa menjadi kalangan yang paling rentan terhadap penularan HIV. Hal ini diperparah oleh gaya hidup bebas, minimnya pemahaman mengenai risiko HIV, serta maraknya aplikasi digital yang memfasilitasi pergaulan tanpa kontrol.
Untuk mengatasi hal tersebut, Komisi V DPRD Lampung mendorong pemerintah memperkuat program edukasi di lingkungan sekolah secara rutin dan terstruktur.
Andika juga menekankan pentingnya pengawasan dari keluarga serta penguatan nilai agama dan moral sebagai benteng utama bagi generasi muda.
Di sisi lain, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Edwin Rusli, menyatakan, peningkatan angka kasus ini juga sejalan dengan upaya agresif pemerintah dalam melakukan deteksi dini.
Berdasarkan data kumulatif Dinas Kesehatan, jumlah Orang Dengan HIV (ODHIV) di Lampung terus meningkat secara bertahap.
Pada tahun 2024 tercatat ada 5.495 ODHIV, kemudian naik menjadi 6.474 ODHIV pada tahun 2025, dan menyentuh angka 6.696 ODHIV hingga Maret 2026. Kasus tertinggi dilaporkan berada di Kota Bandar Lampung.
Edwin menjelaskan, penularan HIV di Lampung saat ini masih didominasi oleh praktik hubungan seksual tidak aman, khususnya pada pasangan heteroseksual.
Selain itu, penularan juga dipicu oleh penggunaan jarum suntik tidak steril, transfusi darah yang terkontaminasi, hingga transmisi dari ibu ke bayi.
Hingga saat ini, capaian penanganan kasus di Lampung menunjukkan bahwa 71 persen ODHIV telah ditemukan dan masih hidup.
Dari jumlah tersebut, 70 persen pasien telah menjalani terapi Antiretroviral (ARV), dan 58 persen di antaranya memiliki viral load yang tersupresi. (*)






