Caption : Kawanan gajah iar masuki pemukiman warga di Suoh, Lampung Barat.
Hariannarasi.com, Lampung Barat – Sebanyak 18 ekor gajah liar dilaporkan memasuki dan bertahan di sekitar area permukiman warga di Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat, selama 15 hari terakhir.
Hingga Selasa (5/5/2026), kawanan gajah yang dinilai lebih agresif tersebut belum berhasil digiring kembali ke habitat aslinya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Saat ini, kawanan satwa dilindungi itu terpantau berada di kawasan Danau Lebar, Pekon Sukamarga. Dalam pergerakannya, gajah-gajah tersebut dilaporkan telah menimbulkan sejumlah kerugian materiil bagi masyarakat sekitar, di antaranya:
1. Merusak tanaman perkebunan produktif milik warga, seperti singkong dan pisang.
2. Merusak pipa saluran air bersih yang menjadi sumber kebutuhan utama warga di Pekon Gunung Ratu.
3. Merusak fasilitas rumah warga dan area pemakaman di sekitar Danau Lebar.
Anggota DPRD Daerah Pemilihan (Dapil) Suoh sekaligus Ketua Sahabat Satwa Lembah Suoh, Sugeng Hari Kinaryo Adi, mengonfirmasi bahwa karakter kawanan gajah kali ini berbeda dari biasanya. Mereka lebih berani melintasi infrastruktur warga seperti jalan umum dan jembatan.
“Gajah ini sangat sulit digiring dan menunjukkan perilaku agresif. Sudah 15 hari bertahan di sekitar Danau Lebar, bahkan sempat merusak kuburan dan rumah warga. Diduga ini dipicu krisis pakan di dalam hutan,” jelas Sugeng.
Menghadapi situasi ini, Tim lapangan dari Sahabat Satwa Lembah Suoh bersama masyarakat setempat terus melakukan upaya mandiri, seperti pemblokadean jalur, upaya penggiringan, serta menggelar ronda malam. Fokus penjagaan diperketat di wilayah rawan, salah satunya di Pekon Ringin Sari.
Akibat sulitnya proses penggiringan mandiri, warga setempat kini mendesak pihak terkait, khususnya pengelola Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Masyarakat menuntut adanya tindakan penanganan yang lebih masif dan konkret untuk segera mengembalikan gajah ke habitatnya serta mencegah potensi jatuhnya korban jiwa. (*)






