Pemerintahan Prabowo Tarik Utang Rp736,3 Triliun! Wamenkeu: Untuk Pembiayaan Negara di 2025

- Editor

Kamis, 8 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caption : ist

Hariannarasi.com, Jakarta – Pemerintah akhirnya menutup buku anggaran tahun 2025 dengan catatan yang memerlukan perhatian serius. Ditengah upaya menjaga stabilitas fiskal, Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono mengonfirmasi bahwa realisasi defisit anggaran membengkak hingga mencapai Rp 695 triliun, atau setara dengan 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). 

Angka ini menjadi sinyal kuat mengenai besarnya tekanan belanja negara yang tidak sepenuhnya mampu diimbangi oleh sektor pendapatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hingga ketuk palu akhir tahun, pendapatan negara hanya mampu menyentuh angka Rp 2.756 triliun, atau sekitar 91,7 persen dari target yang telah dipatok dalam APBN 2025.

Untuk menambal celah fiskal tersebut, pemerintah bergerak agresif di pasar utang. Dalam konferensi pers APBN KiTa, Thomas memaparkan bahwa penarikan utang baru hingga 31 Desember 2025 telah mencapai Rp 736,3 triliun.

Walaupun angka ini terlihat masif, pemerintah tampaknya masih berupaya menjaga kedisiplinan dengan tetap berada di angka 94,9 persen dari pagu pembiayaan utang yang direncanakan sebesar Rp 775,9 triliun.

Namun, kondisi kontras terlihat pada sektor pembiayaan nonutang yang hanya mampu terealisasi sebesar Rp 7,7 triliun sangat jauh dari ekspektasi awal yang menargetkan Rp 159,7 triliun.

Secara kumulatif, total pembiayaan anggaran sepanjang tahun 2025 melonjak hingga Rp 744 triliun. Angka ini menembus 120,7 persen dari desain awal pembiayaan yang hanya dipatok di level Rp 662 triliun.

“Tingginya realisasi ini mencerminkan betapa dinamis dan besarnya kebutuhan pembiayaan negara sepanjang tahun 2025,” ujar Thomas Djiwandono.

​Melampauinya target pembiayaan ini memberikan gambaran jelas bahwa pemerintah memilih untuk tetap melakukan ekspansi belanja demi menjaga momentum ekonomi, meskipun harus dibayar dengan risiko pelebaran defisit yang mendekati ambang batas psikologis 3 persen.

Kesenjangan antara target pendapatan yang tidak tercapai (91,7%) dan realisasi pembiayaan yang justru melampaui pagu (120,7%) menunjukkan bahwa tahun 2025 merupakan periode yang cukup menantang bagi pengelolaan kas negara.

Kedepan, efisiensi belanja dan optimalisasi penerimaan pajak tampaknya akan menjadi pekerjaan rumah yang jauh lebih berat bagi tim ekonomi pemerintah. (*)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Rupiah Melemah dan IHSG Anjlok! Tertekan Lonjakan Harga Minyak?
Pabrik Sepatu PT PWI 6 Tutup Permanen, 1.100 Pekerja Kena PHK!
IHSG Anjlok 11 Persen Gara-gara MSCI, Prabowo Kirim Pesan Keras: Bangsa Indonesia Tidak Takut!
Ancaman Degradasi MSCI Memuncak, BEI Depak 80 Saham Konsentrasi Tinggi dari IHSG, Ini Daftarnya!
IHSG Anjlok 11,57 Persen, CELIOS Sebut Akuisisi BYAN oleh Haji Isam Jadi Pemicu Ancaman MSCI
IHSG Dibuka Anjlok 4,39 Persen ke Level 4.957, Saham BBCA Rontok Sentuh ARB!
Tancap Gas! Pemprov Lampung Kebut Kawasan Industri Raksasa Katibung, dari Kilang Minyak hingga Pabrik Bioetanol
IHSG Anjlok 8 Persen! Pimpinan DPR, Danantara, OJK dan Kapolri Datangi BEI
Berita ini 37 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 18:29 WIB

Rupiah Melemah dan IHSG Anjlok! Tertekan Lonjakan Harga Minyak?

Minggu, 25 Oktober 2026 - 19:32 WIB

Pabrik Sepatu PT PWI 6 Tutup Permanen, 1.100 Pekerja Kena PHK!

Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:44 WIB

IHSG Anjlok 11 Persen Gara-gara MSCI, Prabowo Kirim Pesan Keras: Bangsa Indonesia Tidak Takut!

Senin, 19 Oktober 2026 - 19:51 WIB

Ancaman Degradasi MSCI Memuncak, BEI Depak 80 Saham Konsentrasi Tinggi dari IHSG, Ini Daftarnya!

Senin, 19 Oktober 2026 - 10:08 WIB

IHSG Anjlok 11,57 Persen, CELIOS Sebut Akuisisi BYAN oleh Haji Isam Jadi Pemicu Ancaman MSCI

Berita Terbaru