Ketika Indonesia Berada di Ambang Bubar, Mulyadi: Sudah Memenuhi Syarat 

- Editor

Jumat, 2 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caption : Dr. Mulyadi, Dosen Ilmu Politik dan Akademisi Universitas Indonesia. (Dok. DPD RI)

Hariannarasi.com, Jakarta – Dibalik hiruk-pikuk janji politik dan angka-angka pertumbuhan ekonomi yang kerap dipoles, sebuah peringatan keras datang dari lingkungan akademis. 

Dr. Mulyadi, seorang pengamat politik dari Universitas Indonesia, melontarkan tesis yang cukup menggetarkan nalar kebangsaan kita, Indonesia, menurutnya, kini telah memenuhi prakondisi untuk “bubar”.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bukan kemiskinan yang ia sebut sebagai pemicu utama. Sejarah mencatat banyak bangsa tetap kokoh meski dalam keterbatasan ekonomi. Namun, Mulyadi menyoroti satu variabel yang jauh lebih fatal dan sulit diperbaiki, yakni krisis kepercayaan publik.

Mulyadi menggunakan analogi yang sederhana namun menohok. Sebuah keluarga, katanya, akan tetap utuh meski hidup dalam kemiskinan. Namun, ketika rasa percaya antar anggota keluarga itu hilang, perpisahan hanyalah masalah waktu.

“Pemerintah kini seolah berteriak di ruang hampa. Apa pun pidato yang disampaikan, di mana pun panggungnya digelar, masyarakat sudah tidak lagi menaruh kepercayaan,” ujarnya.

Kritik Mulyadi tidak berhenti pada retorika. Ia menyoroti ironi besar di negeri ini, tingginya angka pengangguran terdidik. Indonesia tidak kekurangan ahli, namun sistem yang ada seolah enggan atau mungkin takut memaksimalkan potensi mereka.

Rantai nilai yang seharusnya berujung pada kemakmuran rakyat, mulai dari pengelolaan sumber daya alam oleh tangan-tangan ahli lokal hingga distribusi hasil yang adil, kini terasa putus di tengah jalan.

Dampaknya mulai terlihat di daerah-daerah. Munculnya riak-riak keinginan untuk memisahkan diri atau ketidakpuasan regional yang semakin tajam adalah alarm yang tidak boleh disepelekan.

Politik Komplotan vs Politik Kebaikan

​Poin paling tajam dari analisisnya adalah kritik terhadap pola komunikasi politik saat ini. Dalam kacamata ilmu politik, Mulyadi menegaskan bahwa kerukunan antar aktor politik tidak selalu berarti baik bagi negara.

​”Lebih baik para elit politik itu bermusuhan demi memperjuangkan kebaikan publik, daripada mereka saling rangkul namun sebenarnya sedang bersekongkol atau berkomplot,” tegasnya.

Fenomena salam-salaman dan rangkul-rangkulan di panggung depan seringkali dicurigai publik sebagai upaya mengamankan kepentingan kelompok, bukan kepentingan rakyat. Inilah yang kian menggerus legitimasi moral pemerintah di mata rakyatnya sendiri.

​Dr. Mulyadi menekankan bahwa masih ada jalan keluar sebelum “prakondisi” bubarnya negara ini menjadi kenyataan. Syarat utamanya adalah perbaikan komunikasi politik yang substansial, bukan sekadar gimik. Pemerintah harus kembali menjadi pelayan publik yang transparan, bukan sekadar operator kepentingan elit.

Pertanyaannya kini, apakah para pemangku kebijakan mau mendengar suara dari menara gading ini, atau tetap asyik dengan narasi mereka sendiri hingga kepercayaan publik benar-benar berada di titik nadir?

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Otonomi Daerah di Ujung Tanduk, Anggaran Disunat 25 Persen Demi Program Pusat, Sentralisasi ala Orde Baru Bangkit Lagi?
Dituding Jadi Makelar Jabatan, Raffi Ahmad: Saya Hanya Menghubungkan!
PRI Targetkan 50 Kursi DPR RI pada Pemilu 2029, Rayakan HUT Ke-1 di Bandar Lampung
Peran Ganda Raffi Ahmad: Dari ‘kurir’ Elite Politik, Bisnis BUMN, hingga Nyaris Jadi Menteri
Kepala Bappisus soal Isu Surpres Pergantian Kapolri: Tunggu Tanggal Waktunya
Jokowi di Tanah Timor: Dari Riuh Sambutan Politik dan Warga hingga Penobatan Sakral Sesepuh Raja-Raja
Berapa Harga Outfitnya? Gaya Elit Muhammad Kadafi di Tengah Rapat DPR Tuai Sorotan!
Organisasi Pers Desak Presiden Prabowo Minta Maaf Terkait Pernyataan ‘Londo Ireng’
Berita ini 342 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 17:31 WIB

Otonomi Daerah di Ujung Tanduk, Anggaran Disunat 25 Persen Demi Program Pusat, Sentralisasi ala Orde Baru Bangkit Lagi?

Minggu, 9 Agustus 2026 - 09:46 WIB

Dituding Jadi Makelar Jabatan, Raffi Ahmad: Saya Hanya Menghubungkan!

Minggu, 9 Agustus 2026 - 09:38 WIB

PRI Targetkan 50 Kursi DPR RI pada Pemilu 2029, Rayakan HUT Ke-1 di Bandar Lampung

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 08:51 WIB

Peran Ganda Raffi Ahmad: Dari ‘kurir’ Elite Politik, Bisnis BUMN, hingga Nyaris Jadi Menteri

Selasa, 4 Agustus 2026 - 17:07 WIB

Kepala Bappisus soal Isu Surpres Pergantian Kapolri: Tunggu Tanggal Waktunya

Berita Terbaru