Caption : Istimewa (Warga Threads).
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Kota Palembang kembali diselimuti kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Jumat (2/10/2026).
Kondisi ini menyebabkan penurunan drastis kualitas udara di ibu kota Provinsi Sumatera Selatan hingga berada pada level berbahaya (kategori hitam).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, lonjakan konsentrasi partikulat halus (PM2.5) tercatat sudah memburuk sejak Jumat dini hari.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menjelaskan, tingginya pencemaran udara sudah dimulai sejak pukul 01.00 WIB di mana indeks PM2.5 berada di angka 365,3 µg/m³, dan mencapai puncaknya pada subuh hari.
”Sejak dini hari kualitas udara di Palembang berada di level berbahaya. Angka konsentrasi PM2.5 tertinggi terjadi pada pukul 05.00 WIB, yaitu mencapai 652,7 µg/m³ di PM2.5 Musi 2 dan 592,5 µg/m³ di PM2.5 Talang Betutu,” kata Wandayantolis, Jumat (2/10/2026).
Wandayantolis menambahkan, tingkat pencemaran sempat berfluktuasi pada siang hari.
Kualitas udara sempat membaik ke level sangat tidak sehat (kategori merah) pada pukul 10.00 hingga 11.00 WIB, namun kembali melonjak ke kategori berbahaya pada pukul 12.00 WIB di angka 253,1 µg/m³.
Dampak Lapangan dan Respon Warga
Pantauan di lapangan menunjukkan paparan kabut asap pekat mengganggu jarak pandang dan aktivitas warga di beberapa titik utama Kota Palembang, di antaranya kawasan Jembatan Ampera, Jalan Jenderal Sudirman, hingga Jalan Demang.
Dampak buruk pencemaran udara ini dikeluhkan oleh masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan.
Nina (22), salah seorang pengendara sepeda motor, mengungkapkan bahwa asap pekat telah terjadi selama beberapa hari terakhir dan mulai mengganggu kesehatannya.
”Sudah beberapa hari belakangan asapnya cukup pekat. Kalau sedang naik motor mata terasa perih. Kalau tidak ada urusan pekerjaan, saya lebih memilih diam di rumah untuk meminimalkan risiko kesehatan,” ujar Nina, seperti dikutip Detikcom.
Berdasarkan data terhimpun, peningkatan kabut asap di Palembang dipicu oleh tingginya jumlah titik panas (hotspot) karhutla di wilayah Sumatera Selatan, terutama yang membakar kawasan lahan gambut.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan serta selalu menggunakan masker guna mengantisipasi melonjaknya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). (*)






