Caption : Ratusan santri dan pelajar di Jawa Tengah alami keracunan massal menu MBG. (Dok. BBC)
Hariannarasi.com, Jawa Tengah – Kehidupan di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Desa Ngroto, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, perlahan kembali berputar normal. Jumat siang (16/01), aula pondok yang sepekan lalu dicekam kepanikan massal lantaran banyaknya santri yang keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG), kini kembali beraktivitas normal.
Di atas lantai keramik, para santri duduk melingkar, menikmati hidangan makan siang yang disajikan secara kembul bujana, makan bersama dalam satu nampan besar. Menu hari itu sederhana namun nikmat, yakni nasi soto ditemani kerupuk. Tidak ada menu mewah, namun wajah-wajah belia itu tampak semringah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemandangan hangat ini seolah menjadi kebalikannya dari peristiwa kelam yang terjadi tepat tujuh hari sebelumnya, Jumat (9/1).
Saat itu, ratusan santri bertumbangan usai menyantap jatah Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah program yang sejatinya diniatkan untuk meningkatkan kesehatan mereka.
Fuad Abdillah, Pengurus Yayasan Ponpes Miftahul Huda, masih mengingat jelas detik-detik mencekam tersebut. Kepada awak media, ia menuturkan bahwa petaka bermula usai santri mengonsumsi paket MBG yang dipasok oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Kuwaron.
”Baru dua bulan kami menerima program ini. Namun sore itu, situasi berubah drastis,” ungkap Fuad.
Gejala klinis muncul serentak dan eskalatif. Mulai dari pusing, mual, muntah, diare, hingga demam tinggi menyerang para santri. Dari total 1.260 murid yang mengonsumsi paket nasi kuning lengkap dengan abon, tempe orek, dan telur dadar tersebut, ratusan di antaranya ambruk.
Puncaknya terjadi pada Sabtu (10/01), fasilitas kesehatan pondok tak lagi mampu menampung lonjakan pasien. Sebanyak 112 santri harus dilarikan ke berbagai fasilitas kesehatan.
Termasuk RSUD Ki Ageng Getas Pendowo Gubug dan RSUD Dr. R. Soedjati Soemodiardjo Purwodadi, guna mendapatkan perawatan intensif. Tak hanya santri, tujuh orang guru pun turut menjadi korban, dengan dua di antaranya harus dirujuk.
Jejak Bakteri di Air Tangki
Misteri penyebab keracunan masal ini akhirnya terkuak melalui investigasi Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan. Kepala Dinas Kesehatan, dr. Djatmiko, memaparkan fakta medis yang tak terbantahkan: kontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli).
Berdasarkan uji laboratorium Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, bakteri mematikan tersebut tidak hanya bersarang pada menu makanan (nasi kuning, telur dadar, dan lalapan), tetapi juga pada sumber air yang digunakan untuk memasak.
”Temuan kami menunjukkan bahwa air bersih yang digunakan SPPG Kuwaron 1 untuk memasak—yang dibeli dari truk tangki—terpapar bakteri E. coli,” tegas Djatmiko, Senin (19/01).
Fakta ini mengungkap kelalaian fatal dalam rantai pasok kebersihan program MBG, yang dampaknya meluas hingga mencatatkan total 803 korban keracunan di seluruh wilayah Kecamatan Gubug.
Meski seluruh korban kini telah pulih secara fisik dan dipulangkan dari rumah sakit, trauma psikis masih membekas. Inayah, siswi SMK, dan Fika, siswi SMP Miftahul Huda, adalah dua dari sekian banyak korban yang merasakan betapa menyiksanya efek racun tersebut.
Kini, ketakutan membayangi mereka. Hasan, seorang santri putra, dengan jujur mengungkapkan keengganannya untuk kembali menyantap menu MBG.
”Saya kapok dan trauma. Habis makan sorenya saya sakit perut luar biasa, mual, muntah, sampai harus dirawat dua hari,” tutur Hasan dengan nada getir. Baginya, jaminan sterilitas dapur penyedia MBG adalah harga mati yang tak bisa ditawar lagi.
Sentimen serupa disuarakan Rahmat dan santri-santri lainnya. Bagi mereka, menu sederhana racikan dapur pondok pesantren kini terasa jauh lebih “mewah” karena menjanjikan rasa aman, dibandingkan paket makanan gratis yang justru mengundang penyakit.
”Enak menu ponpes. Kami khawatir dan takut dengan MBG,” ujar para santri serempak.
Peristiwa di Grobogan ini menjadi “lampu kuning” bagi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis secara nasional. Ketika niat baik pemenuhan gizi tercederai oleh lemahnya pengawasan standar sanitasi, yang dipertaruhkan bukan sekadar anggaran negara, melainkan nyawa generasi penerus bangsa. (*)






