Caption : Ilustrasi
Hariannarasi.com, Jakarta – Vietnam tengah mempercepat langkahnya untuk menjadi pusat pangan atau “dapur dunia”. Pada tahun 2025, total nilai ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan negara tersebut melonjak 12% menjadi US$ 70,09 miliar (sekitar Rp 1.198,54 triliun).
Angka ini melampaui target yang ditetapkan oleh pemerintah Vietnam, yakni sebesar US$ 65 miliar. Dari total nilai ekspor tersebut, produk pertanian menjadi penyumbang terbesar dengan nilai mencapai US$ 37,25 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di saat banyak negara Asia lain masih bergantung pada industri manufaktur, Hanoi secara strategis mulai menjadikan sektor pangan sebagai mesin penyumbang devisa utama.
Pencapaian ini tidak didapat secara kebetulan, melainkan melalui perubahan strategi dari sekadar eksportir komoditas mentah menjadi pemasok makanan bernilai tinggi. Vietnam saat ini memposisikan negaranya sebagai pusat pengolahan dan re-ekspor (hilirisasi).
Hal ini terlihat jelas pada komoditas lada. Sepanjang 2025, Vietnam tercatat mengimpor 42.688 ton lada senilai US$ 266,2 juta untuk menjaga pasokan industrinya. Mayoritas bahan baku mentah tersebut diimpor dari Brasil, Kamboja, dan Indonesia.
Bahan baku ini kemudian diolah di dalam negeri untuk diekspor kembali dengan nilai tambah yang jauh lebih tinggi. Kondisi ini membuat negara produsen bahan mentah seperti Indonesia kehilangan potensi pendapatan dari nilai tambah produk (hilirisasi).
Selain strategi perdagangan, ambisi Vietnam juga didorong melalui jalur pariwisata kuliner. Ho Chi Minh City kini telah masuk ke dalam radar wisata gastronomi global, yang didukung oleh ekspansi Michelin Guide di negara tersebut.
Reputasi kuliner ini berdampak langsung pada pariwisata dan memuluskan jalan bagi produk pangan kemasan Vietnam untuk masuk ke rak ritel internasional.
Meskipun masih menghadapi tantangan terkait kualitas bahan baku yang belum seragam dari para pelaku usaha lokal, arah kebijakan Vietnam sudah sangat jelas.
Konsistensi Vietnam dalam menjalankan strategi standardisasi, hilirisasi, dan promosi komoditas pangan berpotensi besar menjadikan negara tersebut sebagai mesin devisa baru di Asia Tenggara, meninggalkan negara-negara tetangga yang lambat melakukan hilirisasi. (*)






