Caption : Ist
Hariannarasi.com, Jakarta – Di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global, perencana keuangan memperingatkan masyarakat agar tidak menimbun uang tunai dalam jumlah yang terlalu besar di satu rekening tabungan biasa.
Meskipun istilah “cash is king” kerap digaungkan sebagai strategi aman saat situasi tidak menentu, menyimpan dana berlebih di rekening justru berisiko merugikan secara finansial dalam jangka panjang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jessica Goedtel, seorang Perencana Keuangan Bersertifikat, menjelaskan bahwa setidaknya ada dua risiko utama dari menumpuk uang di rekening biasa.
Pertama, nilai riil uang tunai dapat terus tergerus oleh inflasi. Kedua, risiko keamanan jika terjadi kesalahan transaksi atau pembobolan.
”Rekening tabungan sering kali tidak memiliki perlindungan [keamanan transaksi] yang sama kuatnya seperti kartu kredit,” ungkap Jessica.
Lebih lanjut, para pakar keuangan menegaskan bahwa uang tunai di rekening operasional tidak boleh disamakan dengan dana darurat. Dana darurat secara khusus disiapkan untuk kondisi tak terduga, seperti tagihan medis mendadak atau kehilangan pekerjaan.
Sebagai solusi, perencana keuangan menyarankan masyarakat untuk mengalokasikan dana darurat, dengan nilai setara tiga hingga enam bulan pengeluaran, di tempat yang terpisah namun tetap mudah diakses.
Salah satu opsinya adalah memindahkan dana tersebut ke rekening tabungan dengan bunga yang lebih tinggi (high-yield savings) atau instrumen rendah risiko lainnya.
Dengan strategi ini, nilai uang masyarakat tidak akan mudah tergerus inflasi, namun tetap likuid dan siap digunakan kapan pun saat kondisi darurat terjadi. (*)






