Caption : Ist
JAKARTA — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memanggil jajaran Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) beserta mantan Menteri Keuangan era Presiden Soeharto, Fuad Bawazier, ke Istana Negara, Jakarta, pada Selasa (5/5/2026).
Pertemuan tingkat tinggi ini digelar secara mendadak guna merespons tekanan berat yang tengah melanda nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemanggilan para pemangku kebijakan ekonomi ini bertepatan dengan rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026.
Berdasarkan data pasar, nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah hingga menyentuh level terendah sepanjang masa (all-time low), yakni di posisi Rp17.410 per dolar AS. Pergerakan mata uang Garuda tercatat telah mengalami tren pelemahan selama lima hari perdagangan berturut-turut.
Berdasarkan pantauan di Istana Negara, rapat krusial tersebut dihadiri oleh para pejabat inti sektor keuangan. Para tokoh yang tampak hadir meliputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan sejumlah menteri terkait di bidang perekonomian
Meski demikian, para pejabat tinggi yang hadir enggan memberikan komentar mendetail kepada awak media mengenai langkah spesifik yang akan diambil sebelum rapat selesai diselenggarakan.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya yang tiba belakangan di Istana juga belum merinci draf kebijakan atau intervensi yang akan dibahas dalam pertemuan tersebut.
Namun, ia memberikan pernyataan untuk menenangkan pasar terkait kondisi makroekonomi domestik saat ini.
Purbaya menekankan bahwa fundamental perekonomian nasional masih solid di tengah guncangan nilai tukar. “Pondasi ekonomi RI tetap kuat untuk memperbaiki nilai tukar,” tegasnya singkat.
Hingga berita ini diturunkan, publik serta pelaku pasar tengah menanti langkah konkret dari pemerintah dan otoritas moneter untuk menstabilkan kembali nilai tukar rupiah. (*)






