Caption : Ist
Hariannarasi.com, Lampung Selatan – Kemacetan parah melumpuhkan arus balik Lebaran 2026 di kawasan Bakauheni, Lampung Selatan. Ratusan truk pengangkut kebutuhan pokok, buah, dan sayuran terjebak antrean lebih dari 10 jam di akses menuju pelabuhan alternatif, mengakibatkan muatan membusuk dan memicu potensi kerugian miliaran rupiah.
Kemacetan mulai terjadi pada Rabu (25/3) pukul 23.30 WIB dan terpusat di akses menuju Pelabuhan BBJ Muara Pilu serta Pelabuhan Sumur Makmur Abadi (SMA).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Antrean truk mengular sepanjang lebih dari 5 kilometer di Jalan Lintas Timur (Jalintim). Lalu lintas semakin semrawut karena sejumlah kendaraan nekat melawan arus di wilayah Desa Sumur.
Keterlambatan penyeberangan ini berdampak langsung pada kondisi muatan logistik yang mudah rusak. Para sopir dan pemilik barang mengeluhkan lambannya pelayanan.
Pmbusukan muatan, truk yang mengangkut buah-buahan dan sayuran mengalami pembusukan karena tertahan di jalan terlalu lama.
Kerugian finansial total kerugian dari seluruh angkutan logistik yang tertahan ditaksir mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah. Reno, salah satu pemilik muatan buah asal Bengkulu, menyebut kerugiannya bisa menembus Rp50 juta jika buahnya gagal diseberangkan pada hari itu.
Pemicu Antrean: Masalah Scanning Tiket
Menurut para sopir, kemacetan dipicu oleh kebijakan otoritas setempat yang mengharuskan seluruh truk logistik melakukan pemindaian (scanning) tiket fisik di Pelabuhan BBJ sebelum diarahkan ke Pelabuhan SMA.
Hongki, sopir truk buah tujuan Jakarta, mengaku tertahan di Pelabuhan SMA dari Rabu pukul 23.35 WIB hingga Kamis (26/3) pukul 10.30 WIB tanpa kejelasan. “Alasannya harus scan barcode tiket fisik. Harusnya kebijakan seperti ini diperbaiki agar tidak menimbulkan kerugian bagi kami,” ujar Hongki.
Pelabuhan Alternatif Telat Beroperasi
Di tengah kemacetan tersebut, Pelabuhan Wika Beton yang sedianya disiapkan untuk mengurai kepadatan justru tidak difungsikan secara maksimal sejak awal arus balik. Area parkir yang mampu menampung 200 hingga 300 truk sempat dibiarkan kosong.
Kemacetan baru bisa diurai pada Kamis (26/3) pukul 12.39 WIB, setelah seluruh kendaraan dialihkan ke Pelabuhan Wika Beton dan otoritas mengoperasikan dua kapal tambahan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak KSOP Bakauheni belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab pasti lambannya penanganan kemacetan tersebut.
Di sisi lain, Direktur Utama PT ASDP, Heru Widodo, membenarkan bahwa Pelabuhan Wika Beton baru dioperasikan pada hari Kamis. Ia menegaskan bahwa pengaturan tersebut merupakan ranah KSOP, bukan ASDP.
“Jadi itu bukan kewenangan kami, dan sejauh ini kami belum mendapatkan konfirmasi dari pihak KSOP bagaimana penanganannya. Tapi jika mendapat perintah untuk menyiapkan armada agar kompatibel di sana, kami akan ke sana,” tegas Heru. (*)






