Caption : ist
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Persoalan ganti rugi pasca-insiden kecelakaan lalu lintas di kawasan Kelurahan Gunung Agung, Bandar Lampung, tak kunjung menemui titik terang.
Genap satu bulan berlalu sejak sebuah Toyota Innova hitam bernomor polisi BE 1281 T menghantam tempat usaha “Garage Carwash”, pihak korban mengaku belum menerima itikad baik dari pihak yang bertanggung jawab.
Insiden yang terjadi sebulan silam ini menyisakan ironi tersendiri, kendaraan yang mengalami kecelakaan hebat tersebut diketahui ditumpangi oleh empat orang yang diduga kuat merupakan anggota Polres Bandar Lampung.
Alih-alih mendapatkan penyelesaian yang patut, pemilik usaha justru harus menelan pil pahit. Upaya pelaporan yang sempat dilayangkan ke Polsek setempat pada awal kejadian, diklaim oleh korban, mengalami penolakan. Hingga kini, komunikasi dari pihak penabrak maupun keluarganya seolah terputus total.
Kerusakan Diperbaiki Mandiri
Ditengah ketidakpastian tersebut, pemilik carwash memilih memperbaiki sendiri. “Wes tak benahe dewe (sudah saya perbaiki sendiri),” ungkapnya, menyiratkan kekecewaan sekaligus kemandirian dalam memulihkan tempat usahanya agar roda ekonomi tetap berputar.
Ia juga menambahkan, jika pihaknya sempat membuat laporan kepolisian namun ditolak. “Kekeluargaan aja ga sih bang. Biar nambah saudara, waktu awal lapor polsek juga ditolak,” ujarnya menjawab pertanyaan dikolom komentar aplikasi medsos tiktok beberapa waktu lalu.
Meski demikian, pintu damai belum sepenuhnya tertutup. Melalui pernyataan terbukanya, pihak korban menegaskan bahwa tujuannya bukan untuk memperpanjang permusuhan, melainkan mencari penyelesaian yang beradab.
“Kekeluargaan saja, biar menambah saudara,” ujar korban, menekankan bahwa yang ia butuhkan hanyalah komunikasi dan tanggung jawab moral, bukan sengketa berkepanjangan.
Kasus ini kini menjadi sorotan publik dan ujian bagi integritas aparat di mata masyarakat. Harapan korban sederhana agar video dan keluhannya ini sampai kepada pihak keluarga maupun pimpinan instansi terkait, sehingga dapat menjadi jembatan komunikasi yang selama ini tersumbat.
Masyarakat kini menanti, akankah jargon “mengayomi” terwujud dalam bentuk tanggung jawab nyata, ataukah kasus ini akan menguap begitu saja tanpa kejelasan?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hujatan Diberbagai Medsos
Diberbagai platform media sosial lokal Lampung yang memuat kabar ini, kolom komentar berubah menjadi arena penghakiman massal. Rasa empati yang biasanya menyertai berita duka, kali ini seolah tertutup ketidakpercayaan dan stigma negatif terhadap institusi kepolisian.
Publik menyoroti kombinasi waktu kejadian dan penumpang kendaraan sebagai indikasi gaya hidup yang jauh dari etika kedinasan. Narasi “kelelahan” atau “hilang konsentrasi” yang digunakan dalam laporan resmi, tampak sulit ditelan mentah-mentah oleh netizen yang kian kritis dan terkadang sadis.
“Jam 4 subuh, mobil sipil, bawa teman wanita. Masyarakat sudah cerdas, tidak perlu dijelaskan lagi arahnya dari mana atau mau ke mana. Tes urine harus transparan,” tulis salah satu warganet instagram dengan nada menuntut.
Komentar lain menyoroti ironi penegakan hukum. “Miris. Aparat yang seharusnya memberi contoh tertib lalu lintas, justru terlibat insiden fatal yang membahayakan warga lain. Untung tidak ada warga sipil di jalanan yang jadi korban,” timpal akun lainnya dengan nada sarkas.
Akun lainnya pun tak kalah pedasnya, “Korban nabrak jam 4 subuh, bawa 2 cewe berpakaian sexy, hmmm,” ujarnya. “Ortunya harus tanggung jawab, tempat usaha cucian mobil orang ditabrak,” timpal netizen lainnya. (*)






