Caption : istimewa (Dok. IG @kyokko.beach)
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Ditengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian, Provinsi Lampung berhasil membuktikan bahwa sektor pariwisata dan ekonomi kreatif bukan sekadar pemanis wajah daerah.
Sektor ini telah menjelma menjadi jangkar stabilitas ekonomi yang nyata. Sepanjang tahun 2025, geliat industri ini tercatat mampu menyerap lebih dari 254 ribu tenaga kerja, sebuah angka signifikan yang menjadi benteng pertahanan dalam menjaga tingkat pengangguran tetap terkendali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kesehatan ekonomi suatu daerah seringkali terbaca dari lampu-lampu kamar hotel yang menyala. Data berbicara, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Lampung menunjukkan tren positif.
Jika pada 2024 rata-rata okupansi berada di angka 47,11 persen, memasuki November 2025, angka tersebut merangkak naik ke 48,93 persen. Sementara itu, sektor hotel non-bintang pun tetap menunjukkan daya lenting dengan TPK di angka 25,60 persen.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas, capaian tersebut berbanding lurus dengan pengakuan pusat. Kementerian Pariwisata RI kini menempatkan Lampung dalam jajaran 10 besar destinasi favorit wisatawan nusantara.
Sebuah pencapaian luar biasa bahwa “Sang Bumi Ruwa Jurai” telah naik kelas menjadi magnet utama pelancong domestik.
Episentrum Pertumbuhan: Dari Pesisir hingga Taman Nasional
Meski pergerakan wisatawan masih terkonsentrasi di poros utama seperti Bandar Lampung, Lampung Selatan, Lampung Tengah, dan Pesawaran, dampaknya terasa hingga ke sektor akar rumput. Kawasan-kawasan ini menjadi episentrum perputaran uang yang masif.
Nama-nama besar seperti Pulau Pahawang, Taman Nasional Way Kambas, hingga ombak kelas dunia di Pantai Tanjung Setia, tetap menjadi primadona. Namun, yang membedakan tahun ini adalah strategi pengemasannya.
Pemerintah daerah tidak lagi hanya menjual keindahan alam, tetapi juga menjual pengalaman melalui sport tourism seperti Krakatau Run serta kemegahan Krakatau Festival dan Lampung Festival.
Satu hal yang patut digarisbawahi dari kinerja makro pariwisata Lampung tahun 2025 adalah sifatnya yang inklusif. Pariwisata tidak tumbuh sendirian di menara gading, ia menyeret serta UMKM lokal ke dalam rantai pasoknya.
Kolaborasi apik antara birokrasi, pelaku usaha, dan kesadaran kolektif masyarakat lokal menjadi kunci. Kini, pariwisata Lampung bukan lagi sekadar kunjungan sesaat, melainkan sebuah mesin pertumbuhan yang memperluas lapangan kerja dan memperkuat struktur ekonomi daerah demi kesejahteraan jangka panjang masyarakatnya. (*)






