Caption : ist
Hariannarasi.com, Lampung Selatan – Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal turun langsung meninjau kesiapan Bandara Radin Inten II. Bukan sekadar kunjungan seremonial, kehadiran orang nomor satu di Lampung ini bertujuan memastikan seluruh instrumen layanan, mulai dari fasilitas fisik hingga koordinasi lintas sektoral yang siap menyambut kembalinya status bandara internasional yang sempat ditanggalkan.
Langkah strategis ini menemukan titik pembuktiannya pada 2 Februari mendatang. Radin Inten II dijadwalkan melayani penerbangan internasional perdana dengan rute Lampung-Haikou-Jeddah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bekerja sama dengan Hainan Airlines, rute ini diprioritaskan untuk memfasilitasi jemaah umrah, sebuah ceruk pasar yang selama ini menjadi tulang punggung mobilitas warga Lampung ke luar negeri.
Gubernur Mirza menyadari betul bahwa status “internasional” bukan sekadar prestise, melainkan kebutuhan mendesak untuk memacu pertumbuhan ekonomi daerah. Menurutnya, aksesibilitas adalah kunci.
“Kami mendukung penuh agar rute ini berkelanjutan. Ini adalah langkah strategis untuk mempermudah akses warga, terutama jemaah umrah dan haji yang jumlahnya sangat signifikan di Lampung,” tegas Mirza di sela-sela peninjauannya, kamis (8/1).
Data berbicara jelas mengenai potensi ini. Setiap tahun, Lampung memberangkatkan sekitar 23 ribu jemaah umrah dan lebih dari 7 ribu jemaah haji.
Angka ini belum termasuk mobilitas Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Lampung yang terus mengalir setiap tahunnya. Dengan adanya penerbangan langsung, efisiensi waktu dan biaya tentu menjadi keuntungan yang langsung dirasakan masyarakat.
Pariwisata dan Investasi: Menatap Poros Lampung-Tiongkok
Ambisi Gubernur Mirza tidak berhenti pada urusan religi. Sektor pariwisata Lampung yang tengah naik daun menjadi pertimbangan utama. Sepanjang tahun 2025 saja, Lampung diproyeksikan telah menyedot perhatian hingga 23 juta wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
Namun, yang paling menarik perhatian adalah visi diplomasi ekonomi yang diusung. Mirza mengungkapkan bahwa Lampung kini tengah merajut hubungan erat melalui kerja sama sister province dengan Provinsi Shandong, Tiongkok.
“Kami melihat potensi investasi yang besar dari China akan masuk ke Lampung. Hubungan ekonomi ini memerlukan dukungan transportasi yang mumpuni. Peningkatan traffic udara internasional adalah fondasi agar investasi tersebut bisa mendarat dengan mulus,” jelasnya.
Dalam tinjauan lapangan tersebut, fokus Gubernur tertuju pada kesiapan layanan Customs, Immigration, and Quarantine (CIQ). Sebagai gerbang masuk negara, aspek imigrasi, kepabeanan, dan karantina harus berjalan tanpa celah demi menjamin keamanan sekaligus kenyamanan penumpang.
Lampung ingin bergerak cepat. Dengan dibukanya keran penerbangan internasional ini, Radin Inten II diharapkan tidak lagi hanya menjadi bandara pengumpan (feeder), melainkan pemain utama dalam peta penerbangan di wilayah Sumatera bagian selatan. (*)






