Caption : ist
Hariannarasi.com, Tanggamus – Menutup tahun 2025, Polres Tanggamus menyajikan potret penegakan hukum yang dinamis. Di bawah kepemimpinan AKBP Rahmad Sujatmiko, S.I.K., M.H., institusi ini mencatatkan kenaikan angka kriminalitas sekaligus peran polri dalam mendukung program strategis nasional.
Data statistik menunjukkan tren peningkatan tipis pada bidang kriminalitas sebesar 2 persen, dengan total 436 perkara sepanjang tahun ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, lonjakan signifikan justru terjadi pada sektor narkotika yang naik 24,20 persen. Dengan 103 kasus dan 123 tersangka yang diringkus, angka ini menjadi sinyal merah sekaligus bukti agresivitas Satresnarkoba dalam melakukan penindakan.
Kapolres mengakui bahwa memutus rantai bandar besar seringkali terbentur sistem sel terputus.
“Pengedar seringkali hanya pion yang tak tahu jalurnya. Namun, komitmen kami tetap memutus rantai hingga ke hulu,” tegas AKBP Rahmad dalam rilis di Aula Paramasatwika, Rabu (31/12).
Di balik angka-angka statistik yang dipaparkan dalam Rilis Akhir Tahun 2025, terselip sebuah pengakuan jujur namun menantang dari Kapolres Tanggamus, AKBP Rahmad Sujatmiko.
Kenaikan kasus narkoba yang cukup signifikan tahun ini rupanya bukan sekadar dinamika lokal, melainkan imbas dari gurita jaringan nasional dan internasional yang mulai menjamah wilayah hukum Tanggamus.
Kapolres tak menampik adanya hambatan krusial dalam pemberantasan barang haram ini. Titik koordinat dan lokasi transaksi yang bersifat mobile serta tersembunyi menjadi tantangan utama dalam memutus mata rantai peredaran.
“Kendala lapangan seringkali muncul karena lokasi yang sulit dideteksi secara presisi. Namun, hal ini justru memicu kami untuk memperkuat intelijen dan mempersempit ruang gerak para pemain jaringan besar ini,” ungkapnya.
Di jalan raya, tercatat 131 kecelakaan dengan korban jiwa mencapai 49 orang. Menariknya, pendekatan kepolisian tampak bergeser ke arah teguran, dari ribuan pelanggaran, polisi hanya mengeluarkan 315 surat tilang, sementara lebih dari 14.000 pelanggar lainnya hanya diberikan teguran.
Menanggapi tren kejahatan yang merangkak naik, Polres Tanggamus tidak tinggal diam. Evaluasi efektivitas Kamtibmas dilakukan dengan meluncurkan strategi Patroli Perintis Presisi. Sebuah langkah strategis dilakukan untuk memastikan kehadiran negara tidak hanya di jalan raya, tapi hingga ke lorong-lorong kampung.
Setidaknya ada tiga pilar utama yang menjadi tumpuan strategi ini:
- Satgas Mobile 12 Personel: Menggunakan kendaraan roda dua, tim ini memiliki fleksibilitas tinggi untuk masuk ke wilayah yang tak terjangkau kendaraan roda empat. Mereka bergerak dinamis, memetakan daerah rawan, dan menjadi “mata dan telinga” kepolisian di jantung pemukiman.
- Digitalisasi Pengaduan (Layanan 110): Masyarakat kini memegang kendali komunikasi langsung melalui nomor tunggal 110 yang aktif 24 jam. Kapolres menegaskan tidak ada ruang bagi kelalaian, sanksi tegas menanti petugas yang abai terhadap laporan warga.
- Restorasi Siskamling: Polisi kembali merangkul kearifan lokal. Kolaborasi dengan masyarakat melalui pengaktifan pos kamling diharapkan mampu menciptakan sistem pertahanan mandiri di tingkat Pekon (desa).
Rendahnya Penyelesaian Kasus
Mengenai persentase penyelesaian kasus yang masih berjalan, AKBP Rahmad menekankan pentingnya aspek formal dan materiil dalam penyidikan. Ia menolak prinsip “asal cepat” yang mengabaikan kualitas penegakan hukum.
”Penyelesaian kasus bukan sekadar soal kecepatan, tapi akurasi. Interview mendalam dan pengumpulan alat bukti harus sempurna. Begitu berkas dinyatakan lengkap (P-21), langsung kami limpahkan ke Kejaksaan untuk proses peradilan yang transparan,” tambahnya.
Melalui pendekatan yang mengombinasikan ketegasan operasional dan kedekatan emosional dengan warga, Polres Tanggamus berupaya memastikan bahwa keamanan bukan lagi sebuah kemewahan, melainkan jaminan bagi setiap warga.
Tahun 2025 juga menjadi saksi bagaimana Polres Tanggamus bertransformasi menjadi katalisator kesejahteraan. Program ketahanan pangan melalui penanaman jagung seluas 477 hektare sukses memanen 2.268 ton hasil bumi.
Tak berhenti di sana, melalui Yayasan Kemala Bhayangkari, kepolisian merambah sektor kesehatan publik dengan membangun fasilitas pemenuhan gizi di Pulau Panggung yang menyasar 3.451 siswa. Ini adalah langkah konkret bahwa polisi tidak hanya hadir untuk memborgol, tetapi juga untuk merawat generasi. (*)






