Caption : ist
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Kritik tajam dan tanpa tedeng aling-aling dilontarkan oleh Ubedilah Badrun, yang ditujukan langsung kepada Prabowo Subianto.
Dalam sebuah pernyataan yang berapi-api, Ubedilah menilai Prabowo “perlu ditegur keras” dan “kritik keras” atas serangkaian pernyataannya yang dianggap bermasalah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kecaman Ubedilah berfokus pada dua isu krusial, yakni pernyataan Prabowo yang dianggap menggunakan “nama rakyat” untuk menutupi dugaan kasus korupsi, dan kebanggaannya yang dinilai salah tempat terhadap proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Whoosh.
“Saya kira Prabowo perlu ditegur keras, bahwa ketika Prabowo mengatakan atas nama rakyat, tentu berdampak menutupi kasus korupsi,” tegas Ubedilah beberapa waktu lalu.
Ubedilah berpendapat, Prabowo semestinya memahami kondisi riil rakyat yang diklaimnya. Ia mempertanyakan, “rakyat siapa?” yang dibela Prabowo, seraya memaparkan data kesengsaraan.
“Prabowo mesti tahu bahwa rakyat hari ini sedang menderita! Bahwa rakyat hari ini susah mencari kerja! Bahwa rakyat hari ini sedang kelaparan! Bahwa ada 9,9 juta generasi Z nganggur!” serunya.
Ia juga menyoroti penghentian sebuah kasus korupsi yang menurutnya memiliki indikasi kuat. “Kalau kemudian kasus yang begitu tanda-tandanya begitu terang, kemudian diberhentikan. Negara ini bukan paguyuban! Masa urusan korupsi, ini persoalan dugaan kuat korupsi, lalu dianggap selesai? Nggak cukup dengan narasi itu. Itu bukan seorang leader, menurut saya,” paparnya.
‘Argumen Parah’ Prabowo Banggakan Whoosh
Kritik Ubedilah semakin menajam ketika membahas kebanggaan Prabowo terhadap kereta cepat Whoosh. Ia menyebut argumen tersebut “parah”.
Bagi Ubedilah, tidak ada yang bisa dibanggakan dari proyek tersebut karena murni menggunakan teknologi asing.
“Kereta Cepat Jakarta-Bandung itu teknologinya Cina, kalau bikin teknologi kereta cepat dari Jakarta-Surabaya yang bikin putra-putra bangsa kita sendiri, baru kita bangga!”
Ubedilah menutup sentilannya dengan pertanyaan retoris yang menusuk, “Ini Cina. Apa yang dibanggakan?” ujarnya. (*)






