Caption : ist
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) Tanggamus Ismanto diduga melakukan pencabulan terhadap bawahannya sendiri.
Akibat perbuatannya, suami korban bersama keluarga besarnya menuntut keadilan atas terjadinya dugaan pencabulan itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Yuda Atrofy yang juga sebagai suami dari korban pencabulan ini menggelar aksi damai di kantor TNBBS yang bertempat di Pekon Terbaya Kecamatan Kotaagung. Pihaknya menuntut Ismanto untuk tidak bersembunyi dan segera meminta maaf secara langsung kepada korban dan keluarganya.
Dalam orasinya, Yuda Atroyfi mengatakan, aksi demo yang digelar merupakan puncak dari luapan emosi yang sudah tidak terbendung.
“Saya suami dari korban, korban sesungguhnya adalah saya. Di bulan Oktober tahun lalu sudah 6 bulan saya bersabar, jadi kalo ngomongin sabar saya sudah khatam (selesai),” kata Yuda, Senin (10/3).
Yuda menceritakan, sebelum terjadinya aksi demo, pihaknya sudah berusaha menghubungi Ismanto melalui via WhatsApp untuk melakukan mediasi sekaligus permintaan maaf ke ia dan keluarganya. Namun hingga kini Ismanto belum juga menunjukkan adanya itikad baik.
“Dari awal saya mau damai, Tapi karna dia (Ismanto) merasa punya kuasa, punya jabatan, saya diremehkan oleh dia, sehingga terjadilah aksi ini. Permintaan saya cuma satu, pertemukan saya dengan Ismanto minta maaf dan selesai, jangan hanya sembunyi”, tegas Yuda
Yuda melanjutkan, Balai Besar TNBBS sudah dianggap bagian dari keluarganya sendiri, yang mana didalamnya masih ada kakak dan istrinya yang saat ini masih aktif bertugas di TNBBS.
“Bapak saya dahulu cari nafkah di TNBBS, jadi saya minta jangan sampai karna satu oknum pejabat yang bejat membuat kami bermusuhan dengan saudara-saudara kami yang bekerja didalam Balai Besar TNBBS. Saya yang tadinya hormat dengan abang yang di TNBBS jadi dianggap kurang ajar,” ungkapnya.
Pihak korban hanya ingin dipertemukan dengan pelaku dan tidak membiarkan masalah ini berlarut-larut. Apabila ini dibiarkan, maka bisa dipastikan massa yang lebih besar akan turun kembali.
“Kita semua tahu kisah Mahabarata, perang besar Mahabarata dimulai karna satu orang wanita yang dilecehkan. Jangan sampai ini juga menjadi perang besar perang saudara,” ungkapnya.
Dikesempatan itu, kepada anggota polisi yang turut mengamankan jalannya demo Yuda menjelaskan, bagaimana seandainya perempuan bapak sekalian, anak perempuan bapak yang mengalami seperti yang ia alami, apakah bapak bisa bersabar seperti dirinya.
Dirinya juga meminta yang bersangkutan keluar dari persembunyiannya, dan jika perlu pihak kepolisian bisa segera menjemput Kepala TNBBS tersebut.
“Seragam coklat adalah seragam spesial yang tidak bisa di pakai sembarang orang,” harapnya. (*)






