Caption : Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dan Istri Wulan Sari saat memasuki Rumah Dinas Mahan Agung.
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal (RMD) atau akrab disapa Iyay Mirza, diantar secara adat oleh masyarakat Lampung Pepadun memasuki Rumah Dinas Mahan Agung. Gubernur Lampung kemudian menerima masyarakat adat Lampung Pesisir.
Erdiansyah gelar (adok) Gusti Pn Igama Ratu dari penyimbang Say Batin Kebandaran Marga Balak Telukbetung menyambut penyerahan adat, terutama dari masyarakat Sungkay Bunga Mayang dengan memberikan pusaka dan pakaian kebesaran kepada Iyay Mirza.
Pusaka yang diberikan Marga Balak Teluk berupa keris yang diberi nama keris Jaga Pati dan pakaian kebesaran berupa kain sembika dan topi tapis (picung) bernama Mayang Bekekhang pada, Sabtu (8/3).
Dijelaskan Gusti Pn Igama Ratu, kain sembika dan picung melambangkan suatu kehormatan. “Secara filosofis, kami memberikan kepercayaan kepada Pak Gub untuk menjaga kehormatan masyarakat Lampung,” ujarnya.
Ia mengatakan, jika kehormatan masyarakat adat Lampung sesuai dengan falsafah hidup masyarakat adat lampung.
Pusaka Jaga Pati
Pusaka Jaga Pati merupakan simbol masyarakat Lampung yang menjaga Iyay Mirza agar senantiasa terlindung dari marabahaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“JJaga artinya menjaga, pati artinya bahaya. Jaga Pati simbol masyarakat Lampung menjaga Iyay Mirza dari bahaya,” ujarnya.
Picung
Topi atau picung bernama Mayang Bekekhang, Mayang artinya burung elang sedangkan Bekekhang artinya berjemur.
“Kita harus bangga memiliki kekayaan tradisi yang mengajarkan adat terhadap lingkungan sosial,” kata Anshori Djausal. Dengan nilai-nilai budaya tersebut akan terpelihara masyarakat yang hidup damai, ujar Bang An, panggilannya.
Gubernur Mirza dan Wulan Sari juga diiringi arak-arakan adat membuka pintu rumah, sebagai wujud rasa senang, Iyay Mirza sapaan akrab Gubernur Lampung ini melakukan Tarian Ngigel bersama jajaran Forkopimda Provinsi Lampung di Mahan Agung, Rabu (5/3).
“Tradisi ini memiliki makna filosofis yang mendalam sebagai simbol kebersamaan, keterbukaan, dan gotong royong dalam membangun daerah,” jelas Gubernur Lampung. (*)






