Caption : ist (Dok. JejakFakta)
Hariannarasi.com, Jakarta – Penggunaan istilah ‘Oknum’ untuk anggota yang bermasalah di tubuh Partai Coklat (Parcok), meminjam istilah netizen yang menjuluki polisi saat pilkada lalu, hal ini lantaran banyaknya anggota Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang bermasalah di tengah-tengah masyarakat.
Direktur LBH Jakarta Fadhil Alfathan mengatakan, banyaknya masalah mulai dari Jenderal hingga Bintara mengartikan jika lembaga korps baju coklat itu mengalami permasalahan sistemik bukan lagi masalah individu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia juga turut menanggapi terjadinya pemerasan yang dilakukan anggota Polda Metro Jaya ke peserta Festival Djakarta Warehouse Project (DWP) 2024 yang berkewarganegaraan Malaysia.
Istilah oknum banyak digunakan pejabat Polri saat anggotanya terlibat masalah di lapisan masyarakat. Fadhil mencontohkan, seperti saat konferensi pers (konpers) Kadiv Humas Polri Brigadir Jenderal (Brigjen) Pol. Truno Yudo Wisnu Andiko yang kerap kali menggunakan istilah oknum ke masyarakat.
Menurutnya, ini sangat bertentangan karena terkesan menyederhanakan masalah dan lari dari tanggungjawab. “Ia menyatakan ‘Kami memastikan tidak ada tempat bagi oknum yang mencoreng institusi’.” ujar Fadhli meniru ucapan Trunoyudo dalam siaran persnya, Minggu (22/10).
Ia menambahkan, terlalu banyak anggota mereka yang melakukan banyak kesalahan mulai dari eks Kadiv Propam Irjen Pol. Ferdy Sambo, Kadiv HI Irjen Pol. Napoleon Bonaparte, Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Teddy Minahasa, hingga Kombes Pol. Edwin Hatorangan.
Belum lagi pangkat yang dibawah (Bintara) di kasus pungli yang dilakukan anggota Satlantas Polres Bandara Soekarno Hatta berupa sekarung bawang.
“Artinya ini terjadi secara struktural, instrumental, dan kultural. Seharusnya Kapolri mereformasi total dan memastikan kerja-kerja profesional, transparan, dan akuntabel Polri,” tegasnya.
Sebelumnya diberitakan, dugaan polisi memeras warga negara Malaysia ini viral setelah sejumlah korban berkewarganegaraan Malaysia mengaku menjadi korban penangkapan oleh polisi selama DWP 2024.
Sebuah akun media sosial, @squi*** mengatakan, ia melihat banyak pengunjung ditangkap meskipun tidak ditemukan barang terlarang atau melanggar peraturan.
“Ketika saya sedang menikmati acara, tiba-tiba polisi datang dan mulai menangkap orang-orang di sekitar saya,” kata akun itu. (*)






