Caption : ist
Hariannarasi.com, Lampung Timur – Konflik klasik antara gajah liar dan manusia di wilayah penyangga Taman Nasional Way Kambas (TNWK) memasuki babak baru. Tak ingin terus berkutat pada penanganan yang bersifat reaktif, Balai TNWK kini mengubah haluan strategi mitigasi menjadi lebih holistik dan terintegrasi.
Kepala Balai TNWK, MHD Zaidi, menegaskan bahwa era penanganan konflik secara parsial telah usai. Menurutnya, gesekan yang terus berulang di tapal batas kawasan konservasi memerlukan “perisai ganda”, penguatan infrastruktur fisik yang masif dan pemulihan ekologis habitat yang berkelanjutan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Mitigasi konflik saat ini tidak lagi dapat bertumpu pada satu pendekatan parsial. Kita membutuhkan strategi terpadu,” tegas Zaidi, Senin (19/1).
Di level taktis, TNWK telah mengerahkan teknologi dan sumber daya biologis. Pemasangan GPS Collar pada kelompok gajah liar kini menjadi andalan untuk memantau pergerakan kawanan secara real-time.
Langkah ini dikombinasikan dengan patroli intensif dan pengerahan gajah jinak, pasukan khusus yang bertugas memblokade dan menggiring saudara liar mereka kembali ke rimba.
Namun, Zaidi menyadari operasi lapangan saja tidak cukup. Dalam visi jangka panjang, pendekatan struktural menjadi prioritas. Ia mencontohkan efektivitas tanggul sepanjang 12 kilometer di sisi utara kawasan, hasil karya Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), yang hingga kini terbukti kokoh menjadi batas fisik.
Kendati demikian, Zaidi menekankan urgensi penambahan infrastruktur serupa di titik-titik krusial yang selama ini menjadi “jalur tikus” pelintas batas gajah liar.
Sinergi dengan Masyarakat Mitra Polhut (MMP), TNI, Polri, dan pemerintah daerah pun terus dipererat untuk memastikan respons cepat di lapangan.
Kini, pertaruhannya bukan hanya soal keamanan warga, tetapi juga masa depan koeksistensi antara manusia dan satwa ikonik Sumatera tersebut. (*)






