Caption : Ilustrasi
Hariannarasi.com, Jakarta – Maraknya profesi wartawan yang meresahkan sebagian besar pejabat dan masyarakat membuat Ketua Dewan Pers Indonesia Komaruddin Hidayat angkat bicara.
Jhon towel istilah untuk orang yang mengaku-ngaku sebagai wartawan untuk memeras atau meminta uang dari para narasumber yang menjadi target mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal ini lantaran dari akibat tingginya pengangguran serta kebebasan bermedia sosial di internet dan dampak dari kebablasan dalam dunia pers.
Komaruddin menjelaskan, banyak orang begitu mudahnya membuat kartu pengenal untuk mengatasnamakan diri sebagai seorang wartawan, padahal mereka tidak punya kompetensi dan terdaftar secara resmi di Dewan Pers.
Memang akibat dari pengangguran, dan juga kebebasan bermedsos yang muncul ini, mudah sekali di daerah itu orang buat kartu nama, kemudian wartawan online, seenaknya saja. Padahal mereka tidak terdaftar resmi di Dewan Pers,”kata Komaruddin dalam rapat dengan Komisi I DPR, Senin (7/7) dilansir dari Kompas.
Modusnya sederhana, oknum wartawan bodrek itu akan datang dengan kamera, memotret proyek pemerintah yang dianggap bermasalah, lalu mengancam akan memberitakannya jika tidak diberikan imbalan.
“Bagi kepala daerah yang tidak tahu, dan juga mungkin kinerjanya kurang bagus, ini jadi sasaran empuk. Pemda langsung otomatis keluar duitnya, yang tidak tercatat (di Dewan Pers) jangan ditanggapi. Kecuali memang kinerja pemda tadi kurang beres, ya itu agak panjang urusannya,” kata Komaruddin.
Untuk mengatasi masalah ini, Dewan Pers bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri dan Kepolisian dalam melakukan literasi kepada pemda di berbagai daerah.
“Salah satu solusinya adalah mendorong pemda untuk selalu mengecek legalitas wartawan ke database resmi Dewan Pers,” ungkapnya. (*)






