Caption : ist
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Perumahan Bersubsidi Sentral Sitara yang berlokasi di Jalan Raya Krawangsari, Desa Krawangsari, Kecamatan Natar, Lampung Selatan diduga sengaja mengabaikan pembangunan infrastruktur fasilitas umum (Fasum) dan fasilitas sosial (Fasos).
Pasalnya, sejumlah konsumen rumah subsidi program rumah sejahtera dari Kementerian Perumahan Rakyat (Kamenpera) mengeluhkan Developer atau atau pengembang perumahan bersubsidi perum Sentral Sitara.
Janji soal akses jalan komplek perumahan yang mereka tinggali selama kurang lebih selama tiga tahun tak kunjung dibangun oleh pihak Developer dan Pengembang PT Melana Andespa Properti (MAP) dan terkesan mengabaikan tangun jawabnya.
“Semestinya pihak Developer Perumahan harus bertanggung jawab dalam pembangunan dari awal sampai akhir dengan memperhatikan ketentuan UU No. 38 Tahun 2024, tanggung jawab atas jalan perumahan berada di pihak pengembang selama berstatus jalan khusus,” jelas warga setempat yang enggan disebutkan namanya, Minggu (3/11).
Saat tim media meninjau lokasi komplek Perumahan Sentral Sitara tidak mendapati satupun fasum yang seharusnya dinikmati oleh para warga yang tinggal di lokasi tersebut dan terlihat jalan-jalan yang tidak layak dengan kondisi jalan licin becek hingga banyak berlubang.
Puluhan konsumen Perumahan Sentral Sitara yang berada di blok EE menceritakan, bahwa sejak awal menempati rumah Program Subsidi sejak sejak Tahun 2020 silam hingga kini akses jalan, saluran drainase, aliran jaringan listrik dan penerangan lampu jalan hingga fasum dan Fasos lainnya tidak kunjung dibangun oleh pihak Developer PT MAP.
Warga lainnya Riski menjelaskan, selain banyaknya akses-akses jalan licin yang masih tanah merah hingga dan berlobang serta becek, Developer perumahan Sentral Sitara dan perusahaan pengembang PT MAP juga mengabaikan banyak fasilitas pembangunan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Mengingkari janji-janji manis fasilitas yang akan dinikmati oleh konsumen setelah akad kredit disetujui,” ungkapnya.
Adapun sejumlah fasilitas yang dijanjikan pihak Developer kepada calon konsumen terdapat di dalam isi penawaran brosur seperti Fasilitas umum (Fasum) seperti Taman Bermain dan Area Olahraga.
“Namun hingga kini diabaikan tidak bangun, diduga lahan yang dijanjikan telah dibangun penambahan unit rumah subsidi dan jalur listrik sampai saat ini masih menggunakan jalur pararel, hal ini menimbulkan arus tegangan listrik tidak stabil.
“Terkait fasilitas jalur air gratis yang dijanjikan juga tak sesuai fakta, warga dipungut biaya perbulan mencapai Rp 50.000 dan Konsumen kerap kesulitan mendapatkan air disebabkan minimnya mesin sumur bor dan penampungan pembagian aliran air ke rumah konsumen,” lanjutnya.
Selain itu kata dia, sebagian besar warga juga sangat mengeluhkan kondisi akses jalan menuju dan didalam komplek perumahan, khusus disepanjang jalan blok EE yang rusak parah hingga berlubang. “Jalan bertanah licin kerap memakan korban akibat tergelincir saat melewati jalan tersebut,” ungkapnya.
Dan parahnya lagi, warga yang sudah menempati rumah program subsidi bertahun-tahun ini terpaksa melewati jalan gelap gulita tanpa adanya lampu penerangan, jalan yang licin, becek berlumpur dan tergenang air meski tidak turun hujan, air berasal dari siring pembuangan rumah warga karena tidak dibangun drainase hingga saat ini oleh pihak pengembang.
“Awal perjanjian, konsumen dijanjikan akan mendapatkan fasilitas jalan yang layak, dua Fasum, yakni Masjid Tempat Ibadah dan aliran air, namun tidak satupun janji ini yang ditepati. Bahkan terkesan pihak Developer PT MAP melakukan pembohongan publik terhadap konsumen,” ucap Riski.
Sementara, pihak pengembang PT MAP sempat berjanji kepada seluruh warga untuk segera memperbaiki sejumlah akses jalan yang rusak dan akan dikerjakan dan dipastikan selesai pada bulan Mei 2024 lalu. “Nanti setelah pembangunan unit yang sedang dibangun di lokasi blok EE,” kata pihak developer.
“Pasti nanti dua bulan lagi sudah bangun jalan yang rusak karena kami sedang ada pembangunan penambahan unit hunian subsidi di blok EE. Jika dibangun sekarang nantinya jalan rusak kembali karena di lalui kendaraan pengangkut material,” ucapnya. (*)






