Caption : Ist (Dok. Universitas Lampung)
Hariannarasi.com, Jakarta – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia mencatat sebanyak 289 ribu mahasiswa di seluruh Indonesia mengalami putus kuliah (drop out) hingga tahun 2025.
Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 2,62 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan data kementerian, kasus putus kuliah ini didominasi oleh mahasiswa dari Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Tercatat, 73,81 persen dari total mahasiswa yang berhenti studi berasal dari kampus swasta.
Fenomena ini paling banyak menimpa kelompok mahasiswa yang berada pada rentang usia 21 hingga 30 tahun.
Terdapat tiga faktor utama yang memicu tingginya angka putus kuliah tersebut. Masalah ekonomi menjadi penyebab paling mendasar, disusul oleh desakan atau tuntutan untuk segera mencari pekerjaan, serta tekanan akademik dalam menyelesaikan studi.
Kemdiktisaintek menilai tren kenaikan angka putus kuliah ini sangat berisiko memperlebar jurang kesenjangan pendidikan di Tanah Air.
Selain itu, kondisi ini juga dikhawatirkan akan memunculkan persepsi di kalangan generasi muda bahwa perguruan tinggi bukan lagi lingkungan yang dapat mereka pertahankan secara finansial dan mental. (*)






