Caption : Ist
Hariannarasi.com, Jakarta – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan pentingnya keterbukaan pemerintah terhadap kritik serta krusialnya sikap tegas atau ‘keras kepala’ demi mempertahankan prinsip-prinsip bernegara.
Pernyataan tersebut disampaikannya saat memberikan taklimat dalam Rapat Kerja Kabinet pada Rabu (8/4/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Negara menyatakan, kritik, bahkan hujatan sekalipun, harus dijadikan sebagai pengingat agar jajaran pemerintahan tetap waspada dan terus memperbaiki diri.
Prabowo juga menanggapi santai soal anggapan masyarakat yang menyebutnya sebagai sosok yang keras kepala.
Menurutnya, sikap keras kepala dalam kondisi tertentu sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan dan memajukan bangsa. Dirinya mengibaratkannya dengan keteguhan hati para pejuang Iran di bawah ancaman, serta semangat para pendiri bangsa Indonesia di masa lalu.
“Bagi sebuah bangsa, kadang-kadang keras kepala itu butuh. Bapak-bapak pendiri bangsa kita keras kepala, lebih baik mati daripada dijajah kembali. Merah putih harga mati,” ujar Prabowo di hadapan para menterinya.
Selain menyinggung karakter kepemimpinan, Presiden Prabowo juga menyoroti posisi geopolitik Indonesia yang sangat strategis di tengah memanasnya perang di Timur Tengah.
Ia mengingatkan, sekitar 70 persen pasokan energi dan rute perdagangan laut negara-negara Asia Timur—seperti Korea, Jepang, Taiwan, dan Tiongkok—melewati perairan Indonesia seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Makassar.
Oleh karena itu, Prabowo memanda Indonesia saat ini merupakan negara yang berada di posisi cerah dan sangat aman dari dampak terburuk gejolak global.
Untuk memanfaatkan momentum tersebut, pemerintah kini tengah merencanakan pembangunan Pusat Keuangan Khusus (Special Financial Center).
“Uang-uang di Timur Tengah mau ke mana? Negara mana yang tidak perang sekarang? Rencana kita, kita mau bikin special financial center. Kita lagi cari tempat, Pak Luhut menyarankan di Bali,” jelasnya.
Dalam rapat tersebut, Presiden juga memaparkan target besar pemerintah terkait penyelesaian masalah sampah nasional. Ia telah menginstruksikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama jajaran akademisi kampus untuk memanfaatkan teknologi buatan dalam negeri.
Prabowo menargetkan bahwa dalam kurun waktu 2-3 tahun, seluruh persoalan sampah dari Sabang sampai Merauke dapat terselesaikan tanpa harus membeli teknologi mahal dari luar negeri.
Di akhir arahannya, Prabowo menepis anggapan bahwa lawatan luar negerinya selama ini hanya sebatas liburan. Ia menegaskan seluruh kunjungan kenegaraan, termasuk kunjungannya ke Jepang baru-baru ini, dilakukan untuk mengamankan pasokan minyak dan energi nasional bagi rakyat Indonesia. (*)






