Caption : Ilustrasi
Hariannarasi.com, Jakarta – Bayangkan sebuah mesin raksasa yang menggerakkan uang Rp1,2 triliun setiap kali matahari terbit. Mulai tahun 2026, mesin itu resmi beroperasi dengan nama Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ini bukan sekadar kebijakan populis, ini adalah salah satu operasi logistik dan manuver fiskal paling ambisius dalam sejarah modern Republik Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan total pagu anggaran menembus angka fantastis Rp335 triliun per tahun, negara mematok target yang tak main-main, menjangkau 82,9 juta penerima manfaat dari Sabang hingga Merauke.
Angka ini tak pelak mengubah lanskap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kita. Namun, mari kita bedah anatomi dari triliunan rupiah yang berputar setiap harinya tersebut.
Dari Rp1,2 triliun dana segar yang mengalir per 24 jam, porsi terbesarnya dialokasikan untuk memutar roda ekonomi akar rumput. Sekitar 70 hingga 85 persen, ekuivalen dengan Rp800 miliar hingga Rp900 miliar. Disuntikkan langsung untuk belanja bahan pangan lokal.
Di atas kertas, jika dieksekusi dengan presisi tanpa kebocoran, ini adalah katalis luar biasa yang akan menghidupkan urat nadi para petani, peternak, dan nelayan di seantero negeri.
Bergeser ke tingkat tapak, eksekusi urusan perut ini dikendalikan oleh Dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Jangan bayangkan dapur umum konvensional.
Setiap unit pelayanan ini memutar dana operasional rata-rata Rp500 juta per hari, dengan tambahan insentif fasilitas sebesar Rp6 juta per hari.
Skala mikro dari program ini dibatasi pada angka Rp15.000 per porsi untuk setiap anak. Matematikanya dijaga ketat, Rp8.000 hingga Rp10.000 murni dikonversi menjadi kalori dan protein di atas piring.
Sementara sisa Rp5.000 harus mampu menghidupi “mesin” dapur, mulai dari tagihan gas, air, listrik, hingga menghargai keringat para relawan yang terlibat.
Untuk benar-benar memahami seberapa gigantik komitmen fiskal ini, kita perlu meminjam kacamata dari sektor lain.
Uang Rp1,2 triliun yang dihabiskan di meja makan dalam sehari itu, faktanya setara dengan biaya membentangkan 40 kilometer aspal jalan nasional baru. Bayangkan, 40 kilometer jalan tol atau jalan arteri yang dibangun, setiap hari.
Perbandingan ini menyingkap sebuah realitas baru dalam arah pembangunan kita. Negara kini meletakkan investasi sumber daya manusia, dalam bentuk asupan gizi langsung sejajar, atau bahkan memprioritaskannya lebih tinggi, dibandingkan investasi beton dan aspal.
Pertanyaannya kini bukan lagi sebatas apakah anggaran itu ada, melainkan seberapa ketat tata kelola yang disiapkan pemerintah untuk memastikan bahwa setiap rupiah dari Rp1,2 triliun per hari itu benar-benar mendarat menjadi daging, tulang, dan kecerdasan bagi generasi masa depan bangsa. (*)






