Sempat Ditolak Pemerintah RI, Karya Anak Bangsa Ini Ditawar Triliunan Rupiah Oleh UEA dan Arab

- Editor

Rabu, 17 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Caption : Istimewa (Dok. Notivox)

Hariannarasi.com, Jawa Tengah – Seorang ilmuwan pertanian asal Demak, Ali Zum Mashar, telah menemukan formula bioteknologi revolusioner berupa pupuk hayati yang mampu menyuburkan tanah ekstrem.  

Meski penemuannya sempat ditolak oleh pemerintah dan akademisi, ia berhasil membuktikan kemanjuran formulanya dan secara tegas menolak tawaran hak paten bernilai triliunan rupiah dari negara-negara Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penemuan bioteknologi ini bermula pada tahun 1999. Ali merumuskan pupuk hayati yang berisi bakteri spesifik, yang diklaim mampu menyuburkan berbagai kondisi tanah ekstrem, mulai dari lahan gambut yang beracun hingga gurun pasir yang gersang.

Namun, upaya awal Ali untuk memajukan ketahanan pangan tersebut mendapat cemoohan dan ditertawakan oleh sesama akademisi saat dipresentasikan.

Bahkan, dilansir dari Notivox, proposal penelitiannya juga ditolak mentah-mentah oleh pemerintah karena gagasannya dianggap sebagai sebuah “kemustahilan” dalam bidang sains.

Tanpa adanya bantuan dana sepeser pun dari negara, Ali memilih untuk tidak menyerah pada birokrasi dan melanjutkan pembiayaan penelitiannya secara mandiri. Ia terpaksa mengorbankan harta benda pribadinya, termasuk menjual rumah, demi menyempurnakan penelitian mikroba tersebut.

Caption : Istimewa

Kerja keras tersebut membuahkan hasil nyata. Mikroba ciptaan Ali sukses diaplikasikan dan mengubah lahan gambut kritis di wilayah Kalimantan menjadi ladang kedelai dan jagung yang sangat subur.

Hasil panen dari lahan yang telah diberi formula tersebut dilaporkan meningkat berlipat ganda dari ukuran normal. Keberhasilan teknologi ini kemudian memancing ketertarikan dari negara-negara Timur Tengah, di antaranya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

Negara-negara tersebut menawarkan dana hingga triliunan rupiah untuk membeli hak paten penemuan tersebut, meskipun sebelumnya pernah dikecewakan dan ditertawakan oleh sistem di dalam negerinya sendiri, jiwa nasionalisme Ali tidak luntur.

Ia secara tegas menolak tawaran asing tersebut. Ali memilih agar hak paten teknologi penakluk gurun pasir tersebut tetap menjadi kedaulatan milik negara Indonesia. (*)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Efek Domino Program MBG, Fasilitas Kampus Anjlok, UKT Meroket 50 Persen!
Rupiah Melemah, Harga Kebutuhan Meroket, Kebijakan Amburadul! 1.500 Mahasiswa Turun ke Jalan
Batal Digelar! Operasi Patuh 2026 Mendadak Ditunda se-Indonesia, Ada Apa?
Mantan Menhan RI Ryamizard Ryacudu Tutup Usia di RSPAD Gatot Soebroto
Meski MK Putuskan Jakarta Tetap Ibu Kota, Otorita Pastikan Pembangunan IKN Jalan Terus!
Lahir dari Induk Amputasi Korban Perburuan Liar, Gubernur Lampung Beri Nama Bayi Harimau Sumatera
Dinilai Tak Tepat Sasaran, KPK Sorot Program MBG!
Hadapi Ancaman Multidimensi, Pemprov Lampung dan Unhan RI Bersinergi
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 05:24 WIB

Sempat Ditolak Pemerintah RI, Karya Anak Bangsa Ini Ditawar Triliunan Rupiah Oleh UEA dan Arab

Selasa, 16 Juni 2026 - 05:36 WIB

Efek Domino Program MBG, Fasilitas Kampus Anjlok, UKT Meroket 50 Persen!

Jumat, 12 Juni 2026 - 07:18 WIB

Rupiah Melemah, Harga Kebutuhan Meroket, Kebijakan Amburadul! 1.500 Mahasiswa Turun ke Jalan

Senin, 8 Juni 2026 - 16:35 WIB

Batal Digelar! Operasi Patuh 2026 Mendadak Ditunda se-Indonesia, Ada Apa?

Minggu, 31 Mei 2026 - 14:19 WIB

Mantan Menhan RI Ryamizard Ryacudu Tutup Usia di RSPAD Gatot Soebroto

Berita Terbaru