Caption : Ist
Hariannarasi.com, Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa Indonesia akan mulai mendatangkan pasokan minyak mentah dari Rusia pada bulan ini. Namun, pemerintah memastikan tidak akan mengimpor Bahan Bakar Minyak (BBM) olahan dari negara tersebut.
Hal ini disampaikan Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, pada Jumat (17/4/2026). Meski memastikan waktu pengiriman, ia mengaku belum bisa merinci volume impor minyak mentah yang disepakati.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
”Kalau untuk crude (minyak mentah) mungkin bulan-bulan ini bisa. Insyaallah bulan ini mulai dikirim ke Indonesia,” ujar Bahlil.
Terkait kebijakan untuk tidak mengimpor BBM dari Rusia, Bahlil menjelaskan bahwa kebutuhan impor BBM Indonesia saat ini sudah dipenuhi oleh negara-negara Asia.
Selain itu, beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Kilang Balikpapan membuat Indonesia tidak lagi mengimpor produk solar CN 48.
Bahlil juga memproyeksikan Indonesia akan mengalami surplus solar jika mandatori biodiesel B50 mulai diterapkan, berdasarkan data Kementerian ESDM, total konsumsi BBM nasional saat ini berada di kisaran 39–40 juta kiloliter (kl) per tahun.
Berkat tambahan kapasitas dari RDMP Balikpapan, produksi BBM nasional kini mencapai hampir 20 juta kl per tahun, sehingga sisa kebutuhan impor hanya berkisar di angka 50 persen dari total konsumsi.
”Jadi tidak ada kita impor BBM jadi dari Timur Tengah, negara Afrika, Amerika, ataupun negara lain. Itu harus clear dulu ya,” tegas Bahlil.
Selain minyak mentah, pemerintah Indonesia dan Rusia juga sedang melakukan tahap finalisasi untuk rencana pembelian gas minyak cair atau Liquified Petroleum Gas (LPG).
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menambahkan bahwa tim dari Ditjen Migas saat ini sedang berada di Rusia untuk menyusun teknis kerja sama pengadaan komoditas migas tersebut secara jangka panjang, meski skema dan volumenya belum diputuskan.
Kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan kenegaraan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin, Senin (13/4/2026) lalu.
Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilyov sebelumnya juga telah mengonfirmasi bahwa kedua negara sedang bernegosiasi secara serius untuk menyepakati kontrak minyak jangka panjang dengan harga yang saling menguntungkan. (*)






