Caption : Ist
Hariannarasi.com, Jakarta – Otoritas Iran hingga Sabtu (28/3/2026) pagi belum memberikan izin kepada dua kapal tanker Pertamina asal Indonesia yang membawa minyak mentah untuk melintasi jalur perairan Selat Hormuz.
Di saat yang bersamaan, kapal tanker dari negara lain, termasuk negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia, telah diizinkan melewati jalur strategis tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi dari pemerintah Iran mengenai alasan penahanan kapal berbendera Indonesia tersebut.
Situasi ini memunculkan pertanyaan mengingat hubungan diplomatik Indonesia dan Iran yang telah terjalin lama sejak era Presiden Soekarno.
Secara diplomatis, Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, diketahui belum melakukan pertemuan resmi dengan para pejabat pemerintahan RI sejak insiden serangan militer Amerika Serikat-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 lalu.
Boroujerdi sejauh ini baru menemui sejumlah tokoh nasional, di antaranya Jusuf Kalla dan Megawati Soekarnoputri.
Publik dan media sosial mengaitkan penahanan dua kapal Pertamina ini dengan tindakan hukum Indonesia terhadap kapal-kapal tanker milik Iran di masa lalu.
Pada Januari 2026, Kejaksaan Agung RI baru saja melelang kapal supertanker berbendera Iran, MT Arman 114, beserta muatan minyak mentahnya senilai Rp 1,1 triliun.
Kapal tersebut dirampas negara setelah ditangkap Bakamla pada Juli 2023 akibat melakukan transfer minyak ilegal, memalsukan identitas (AIS), dan mencemari Laut Natuna Utara.
Sebelumnya, pada Januari 2021, Indonesia juga pernah menahan kapal tanker Iran, MT Horse, akibat pelanggaran batas wilayah perairan dan transfer BBM ilegal di perairan Kalimantan.
Namun, pemerintah Indonesia melepaskan kapal tersebut beserta seluruh awaknya pada Mei 2021 setelah melalui proses diplomasi.
Meski rekam jejak penyitaan kapal Iran oleh Indonesia ini memicu spekulasi mengenai adanya aksi balasan, sejumlah pengamat menilai berbeda.
Mereka berpendapat bahwa tertahannya kapal tanker Indonesia di Selat Hormuz saat ini lebih dipengaruhi oleh lambatnya proses teknis diplomasi antarnegara, bukan karena konflik politik atau imbas dari pelelangan MT Arman 114. (*)






