Caption : Pakar Politik Indonesia Ray Rangkuti.
Hariannarasi.com, Jakarta – Isu perombakan kabinet atau reshuffle jilid 5 di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai mencuat ke publik. Menanggapi hal tersebut, pengamat politik Ray Rangkuti menilai bahwa tantangan utama dalam perombakan ini adalah kesiapan mental politik Presiden Prabowo dalam menghadapi partai politik di koalisinya.
Ray Rangkuti menyebutkan bahwa secara teknis, posisi yang kosong saat ini adalah kursi Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) setelah Thomas Djiwandono mengundurkan diri untuk menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, ia menyoroti sikap tegas Presiden yang dianggap masih terbelenggu oleh filosofi “politik harmoni”.
“Prabowo dinilai belum memiliki kesiapan mental yang cukup kuat untuk berhadapan dengan ketidaksukaan partai politik dari koalisi pengusungnya jika melakukan perombakan besar-besaran,” ujar Ray dalam keterangannya.
Meski demikian, ia melihat adanya keberanian dari Presiden untuk mulai meminimalisasi pengaruh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, dengan melemahnya posisi menteri-menteri yang dikenal dekat dengan Jokowi.
Sejumlah spekulasi yang beredar menyebutkan adanya pergeseran posisi penting, seperti Menteri Luar Negeri Sugiono yang dikabarkan akan mengisi posisi Menko PMK, sementara Pratikno disebut akan beralih peran menjadi penasihat presiden.
Di sisi lain, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi membantah kabar bahwa reshuffle akan dilakukan dalam waktu dekat.
Ia menegaskan bahwa fokus saat ini hanyalah pada pengisian jabatan Wamenkeu yang ditinggalkan Thomas Djiwandono, dan proses tersebut masih dalam tahap kajian serta menunggu koordinasi dengan Menteri Keuangan.
Hingga saat ini, pemerintah belum memberikan pengumuman resmi terkait jadwal pasti pelantikan pejabat baru untuk mengisi kekosongan di Kabinet Merah Putih. (*)






