Caption : ist
Hariannarasi.com, Tanggamus – Sejarah seringkali lahir dari keberanian mengambil keputusan sulit. Bagi Kabupaten Tanggamus, tahun 2025 bukan sekadar penanda, melainkan tonggak sejarah fiskal yang belum pernah terjadi sejak daerah ini berdiri puluhan tahun silam.
Di bawah nakhoda Bupati Drs. H. Muhammad Saleh Asnawi dan Wakil Bupati Agus Suranto, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Tanggamus mencatatkan angka yang selama ini dianggap “mitos,” menembus angka Rp134,8 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Angka realisasi tersebut melampaui target yang dipatok sebesar Rp130,1 miliar. Secara matematis, capaian di atas 102 persen ini adalah sebuah anomali positif di tengah tantangan ekonomi daerah.
Namun, lebih dari sekadar statistik, keberhasilan ini merupakan jawaban telak atas skeptisisme publik saat pemerintah daerah memutuskan untuk memisahkan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) dari Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD).
Dahulu, penggabungan kedua fungsi ini dinilai membebani kerja birokrasi. Kini, pasca pemisahan, Bapenda membuktikan bahwa spesialisasi dan fokus kerja adalah kunci utama dalam mendulang pundi-pundi daerah.
Jika kepemimpinan Saleh Asnawi-Agus Suranto adalah kompasnya, maka Plt. Kepala Bapenda Tanggamus, Maradona, adalah mesin penggeraknya. Sosok birokrat muda ini tampil sebagai figur sentral yang mampu menerjemahkan visi pimpinan ke dalam skema kerja terukur.
“Capaian ini bukan sekadar keberuntungan. Ini adalah hasil dari perbaikan sistem secara fundamental dan meningkatnya kesadaran kolektif masyarakat,” ujar Maradona dalam keterangan persnya.
Ia menekankan, bahwa lonjakan Pajak Daerah yang menyentuh 105,22 persen serta peningkatan signifikan pada sektor PBB-P2 adalah buah dari edukasi pajak yang berkelanjutan serta kemudahan akses pembayaran bagi warga hingga ke tingkat pekon (desa).
Keberhasilan yang diraih dalam usia kepemimpinan yang belum genap satu tahun ini turut memantik apresiasi dari jajaran eksekutif. Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Hendra Wijaya Mega, menyebut prestasi ini sebagai sinyal kuat menuju kemandirian fiskal.
“Ini prestasi yang melampaui ekspektasi. Dalam waktu singkat, Bapenda mampu menjawab tantangan pendapatan dengan sangat baik. Tata kelola keuangan kita kini bergerak ke arah yang lebih sehat dan profesional,” kata Hendra.
Loncatan PAD tahun 2025 ini secara otomatis menaikkan standar kerja bagi birokrasi di Tanggamus. Publik kini menanti, apakah rekor ini akan menjadi standar baru yang terus meningkat, atau sekadar puncak sesaat.
Namun satu hal yang pasti, Tanggamus kini telah memasuki era baru. Era di mana data berbicara lebih keras daripada janji, dan di mana sinergi antara ketegasan pimpinan serta kecakapan teknis birokrasi mampu memecahkan kebuntuan yang telah bertahan selama puluhan tahun. (*)






