Caption : ist
Hariannarasi.com, Jakarta – Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik mendengar suara benda jatuh di teras rumahnya. Saat diperiksa, bukan sekadar sampah yang ditemukan, melainkan sebuah pesan intimidasi, seekor bangkai ayam tergeletak tanpa pembungkus.
Bangkai tersebut bukan kiriman sembarangan, pada kakinya terikat secarik kertas dengan pesan yang menusuk, mengarah langsung pada keselamatan pribadi dan keluarga sang aktivis. “Jagalah ucapanmu apabila anda ingin menjaga keluargamu. Mulutmu harimaumu,” demikian bunyi ancaman tertulis tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penemuan ini menjadi puncak dari serangkaian serangan yang dialami Iqbal. Sebelumnya, ruang digitalnya telah lebih dulu dikepung. Kolom komentar media sosialnya dipenuhi serangan siber, sementara pesan pribadi (Direct Message) di akun Instagram-nya dijejali ancaman serupa.
Teror fisik dan ancaman terhadap Iqbal berbanding lurus dengan intensitas suaranya dalam mengkritik penanganan pemerintah terhadap bencana kemanusiaan di Sumatera. Bencana banjir yang telah merenggut seribu nyawa tersebut, di mata Iqbal dan Greenpeace, bukanlah sekadar amukan alam, melainkan buah pahit dari deforestasi dan alih fungsi lahan yang dibiarkan menahun.
Kepala Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak, menilai insiden ini sebagai upaya pembungkaman yang vulgar. “Sulit untuk tidak mengaitkan kiriman bangkai ayam ini dengan upaya pembungkaman terhadap orang-orang yang gencar menyampaikan kritik atas situasi Indonesia saat ini,” tegas Leonard melalui keterangan tertulisnya, Kamis (1/1).
Menurut Leonard, kritik publik yang disampaikan Iqbal sejatinya adalah bentuk keprihatinan dan solidaritas. Namun, respons yang diterima justru berupa teror psikologis yang mencoba mematikan nalar kritis.
Pola Sistematis Pembungkaman
Apa yang menimpa Iqbal membuka tabir adanya pola teror yang sistematis terhadap elemen masyarakat sipil. Greenpeace mencatat, modus operandi serupa juga menimpa suara-suara kritis lainnya dari Aceh.
Musisi bernama Donny mengaku menerima kiriman bangkai ayam, sementara influencer Shery Annavita diteror dengan sekarung telur busuk dan aksi vandalisme pada kendaraannya.
Kesamaan pola ini mengindikasikan bahwa para pengkritik penanganan bencana Sumatera tengah menjadi target operasi ketakutan. “Ada satu kemiripan pola yang kami amati, sehingga kami menilai ini teror yang terjadi sistematis,” ujar Leonard.
Kendati demikian, Greenpeace Indonesia menegaskan tidak akan mundur selangkah pun. Leonard mengingatkan bahwa kebebasan berbicara adalah hak konstitusional yang tidak boleh dikerdilkan oleh intimidasi premanisme.
“Kritik publik seharusnya tak diperlakukan sebagai ancaman, melainkan ekspresi demokrasi dan pengingat bagi kekuasaan untuk tetap akuntabel. Upaya teror tak akan membuat kami gentar. Greenpeace akan terus bersuara untuk keadilan iklim, HAM, dan demokrasi,” pungkas Leonard. (*)






