Caption : ist
Hariannarasi.com, Way Kanan – Ditengah hamparan lumbung pangan Kampung Nuar Maju, Kecamatan Buay Bahuga, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal tidak sekadar melakukan tinjauan fisik infrastruktur, Jumat (19/12).
Kunjungannya membawa misi strategis yang jauh lebih mendasar, yakni merombak pertanian Lampung dari sekadar budidaya (on-farm) menuju hilirisasi yang bernilai tambah ekonomis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam kunjungan kerja yang meliputi peninjauan fasilitas pengering padi (dryer), BUMDes, dan implementasi Desa Digital tersebut, Gubernur menyoroti sebuah ironi ekonomi yang telah lama membelenggu petani Way Kanan.
Gubernur Mirza memaparkan analisis tajam mengenai kebocoran ekonomi daerah. Fenomena petani Way Kanan yang menjual gabah basah ke luar wilayah, seperti Pringsewu, Metro, hingga Sumatera Selatan, untuk kemudian dibeli kembali oleh masyarakat setempat dalam bentuk beras kemasan, dinilai sebagai inefisiensi rantai pasok yang merugikan.
“Saya telah menghitung, masyarakat Lampung setiap tahun harus mengeluarkan Rp 300 sampai Rp 400 miliar per tahun hanya karena selisih harga ini,” tegas Gubernur.
Angka ratusan miliar tersebut, menurut Gubernur, sejatinya adalah potensi kesejahteraan petani yang hilang di jalanan distribusi. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa transisi dari menjual gabah menjadi menjual beras adalah harga mati untuk kemakmuran petani.
Sebagai solusi konkret, Pemerintah Provinsi Lampung menargetkan pembangunan ratusan unit mesin pengering (dryer) di desa-desa sentra padi pada tahun depan. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas harga gabah agar tidak jatuh saat panen raya akibat kadar air yang tinggi.
Namun, visi Gubernur melampaui sekadar alat mesin pertanian. Dihadapan perangkat daerah dan pengelola Rice Milling Unit (RMU) yang telah siap beroperasi, Mirza melempar tantangan sekaligus target spesifik.
“Saya minta bulan Februari 2026 nanti, sudah ada peluncuran ‘Beras Way Kanan’. Pasarkan melalui koperasi, BUMDes, hingga warung-warung lokal. Biarkan masyarakat Way Kanan makan beras dari yang ditanam oleh saudara-saudaranya sendiri di Way Kanan. Itu namanya hilirisasi yang sesungguhnya,” instruksinya.
Sinergi Pusat dan Daerah: Era Baru Ketahanan Pangan
Optimisme Gubernur ini didukung oleh iklim kebijakan nasional yang kondusif. Ia memastikan bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, sektor pertanian mendapatkan karpet merah.
Indikatornya jelas, kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk padi dan jagung, serta jaminan suplai pupuk dengan harga subsidi yang didiskon 20 persen.
Dampak dari kebijakan hulu ini telah terlihat pada data produksi. Produksi padi Lampung tercatat mengalami lonjakan signifikan, naik dari 2,7 juta ton menjadi 3,2 juta ton pada tahun ini.
Untuk menjaga momentum kenaikan produksi tersebut, Pemprov Lampung juga melakukan intervensi langsung melalui program Pupuk Organik Cair gratis.
Program ini ditargetkan mencakup 100 persen desa pada tahun 2026, setelah uji coba lapangan membuktikan adanya peningkatan produktivitas lahan antara 15 hingga 20 persen.
“Yang bisa bertahan hari ini adalah yang mampu beradaptasi dan berkolaborasi. Kita kolaborasi tujuannya cuma satu: bagaimana masyarakat Lampung makmur,” pungkas Gubernur, menutup kunjungannya dengan pesan kuat agar lima tahun ke depan menjadi era keemasan bagi pertanian Way Kanan. (*)






