Caption : ist
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Lampung Fest 2025 bukan sekadar parade aroma kopi dan hiruk pikuk barista lokal. Di tengah kemeriahan festival, sebuah diskusi penting telah menarik perhatian publik, menggarisbawahi potensi limbah kulit kopi sebagai kunci menuju pertanian berkelanjutan melalui inovasi biochar.
Pavilion Kopi menjadi saksi talkshow bertema “Pengelolaan Limbah Kopi (Biochar)”. Acara ini menghadirkan Sismita Sari, S.P., M.P., Dosen Pengelolaan Perkebunan Kopi Politeknik Negeri Lampung (Polinela), yang menegaskan perlunya perubahan paradigma dalam melihat sisa hasil olahan kopi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sismita Sari menyoroti volume besar limbah kulit kopi di Lampung yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal. “Walaupun sudah ada berbagai cara pengelolaan, tetap saja sebagian besar terbuang,” ujarnya, Selasa (19/11).
Ia secara tegas mempromosikan biochar sebagai solusi strategis untuk mendukung ekonomi sirkular. Biochar didefinisikan sebagai karbon berpori yang dihasilkan melalui proses pirolisis, yakni pembakaran pada suhu tinggi dengan sedikit oksigen.
Inilah keunggulan yang membuat biochar dijuluki ‘amandemen tanah’ serbaguna. Berkat struktur porinya, produk hijau ini memiliki kemampuan luar biasa:
- Menahan air dan menyerap racun.
- Meningkatkan pH tanah yang seringkali asam.
- Meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK).
- Menciptakan habitat ideal bagi mikroorganisme penting untuk siklus hara, yang pada akhirnya menyehatkan lingkungan tanaman.
Dengan kandungan karbon mencapai 60 hingga 90 persen, biochar dianggap vital untuk memulihkan kondisi lahan marjinal dan tanah miskin nutrisi yang menjadi tantangan utama di sentra kopi nasional seperti Lampung.
Inovasi ini, menurut para ahli, adalah bagian dari strategi konservasi tanah yang harus diadopsi untuk menjaga produktivitas kebun kopi di tengah ancaman perubahan iklim dan degradasi lahan.
“Kami mendukung program pemerintah menuju zero waste. Bahkan limbah kopi pun bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat,” tambah Sismita.
Festival Bukan Sekadar Hiburan, Tapi Ruang Edukasi
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Lampung, Bobby Irawan, menyambut baik sesi edukasi ini. Ia menekankan bahwa Lampung Fest dirancang sebagai panggung komprehensif.
“Lampung Fest menjadi ajang untuk mempromosikan pariwisata, budaya, dan potensi ekonomi kreatif daerah,” terang Bobby.
Selain konser musik, atraksi budaya, dan pameran, festival ini berfungsi sebagai ruang belajar. “Edukasi tentang pengolahan limbah kopi menjadi biochar menunjukkan bahwa industri kopi punya masa depan yang berkelanjutan,” pungkasnya.
Sesi biochar ini merupakan bagian dari rangkaian edukasi yang diselenggarakan panitia bekerja sama dengan Bank Indonesia Provinsi Lampung dan Polinela.
Rangkaian ini sebelumnya dibuka dengan pembahasan budidaya kopi organik pada Senin (17/11) oleh Hafiz Luthfi, S.P., M.P., dan akan ditutup dengan talkshow hilirisasi kopi pada Jumat (21/11) oleh Ir. Maryanti, S.T.P., M.Si. (*)






