Caption : ist
Hariannarasi.com, Lampung Selatan – Setelah puluhan tahun hanya menjadi ‘tuan rumah’ di gerbangnya sendiri, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung akhirnya resmi ‘turun gunung’ ke kancah bisnis pelayaran di Selat Sunda, Jumat (14/11).
Menjadi hari bersejarah dengan diluncurkannya KMP Dalom 1, kapal penumpang pertama milik Pemprov, di Dermaga 4 Pelabuhan Bakauheni.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ini bukan sekadar peluncuran kapal. Ini adalah sebuah pernyataan sikap dan langkah strategis untuk mengamankan ekonomi di salah satu urat nadi pelayaran tersibuk di Indonesia.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, memimpin langsung seremoni yang kental dengan adat. Prosesi Hitar Lawok dan pemecahan kendi di ramdoor kapal menjadi simbol harapan akan keselamatan di jalur yang tak pernah tidur ini.
“Provinsi Lampung telah menjadi pintu gerbang Sumatra selama ratusan tahun,” jelas Gubernur Mirza.
Ia menambahkan, jikaintasan yang dirintis sejak 1912 dan menjadi sibuk sejak 1981 ini, adalah jalur hidup yang menghubungkan cerita, pekerjaan, perdagangan, dan masa depan.
Namun, di tengah hiruk pikuk 65 kapal yang lalu-lalang setiap hari mengangkut jutaan manusia dan komoditas, Lampung baru kini memiliki jagoan sendiri.
”Dari 65 kapal yang beroperasi, kami bersyukur bisa menghadirkan satu kapal untuk masyarakat Lampung,” ujar Mirza.
Sebuah pengakuan jujur. Satu kapal di tengah lautan armada raksasa. Namun, Gubernur menegaskan, ini bukan soal jumlah, melainkan soal komitmen. “Meski hanya satu, komitmen kami adalah menghadirkan pelayanan terbaik,” tegasnya.
Langkah ini adalah sinyal jelas bahwa Lampung tidak ingin lagi hanya menjadi terminal, tetapi juga pemain aktif.
Menariknya, Mirza mengklaim kapal ini hadir tanpa membebani kas daerah. Sebuah kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, BUMN, dan swasta, KMP Dalom 1 diharapkan menjadi mesin Pendapatan Asli Daerah (PAD) baru, bukan beban APBD.
Kapal ini akan dikelola oleh ‘tangan’ BUMD, PT Lampung Jasa Utama (LJU), yang bermitra dengan PT Damai Lautan Nusantara.
Lantas, apa yang ditawarkan KMP Dalom 1 selain status milik Pemprov Lampung ini?
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Lampung, Bambang Sumbogo, memaparkan bahwa ini adalah kapal eksekutif baru, dirakit di Fuso, China, yang diklaim sebagai kapal terbesar ketiga di lintasan Merak-Bakauheni saat ini.
Dengan panjang 114,75 meter, kapal ini mampu menelan 270 penumpang dan 200 kendaraan campuran. “Desain interior kapal ini mengusung nuansa khas Lampung,” jelas Bambang.
Bukan sekadar alat angkut, KMP Dalom 1 dirancang sebagai etalase budaya terapung. Motif tapis, ukiran tradisional, dan corak lokal disematkan di seluruh penjuru kapal. Fasilitas modern seperti co-working space, VIP lounge, dan ruang bermain anak, disandingkan dengan kearifan lokal.
Ini adalah strategi identitas Lampung, sebuah upaya merepresentasikan kebanggaan daerah di tengah era modernisasi logistik.
Kehadiran KMP Dalom 1, yang turut disaksikan oleh Wakil Gubernur Jihan Nurlela dan jajaran Forkopimda, adalah sebuah babak baru. Satu kapal memang belum akan mengubah peta persaingan secara drastis. Namun, ini adalah langkah pertama Lampung untuk tidak lagi sekadar menjadi penonton di pelabuhannya sendiri.
Waktu yang akan membuktikan apakah ‘jagoan’ baru ini mampu bersaing, memberikan pelayanan prima, dan benar-benar mendongkrak PAD seperti yang diharapkan. (*)






