Caption : ist
Hariannarasi.com Bandar Lampung – Indonesia merupakan negara dengan puluhan ribu kepulauan, terbentang luas dari Sabang hingga Merauke, tak terkecuali penganut agamanya. Mayoritas penganut agama penduduk Indonesia ini adalah Islam, bahkan terbesar nomor satu di dunia.
Namun, beberapa survei dilakukan dan hasilnya cukup mencengangkan. Fakta bahwa jumlah penganut Islam di Indonesia menurun didasarkan pada beberapa penelitian dan survei demografi, yang menunjukkan adanya perubahan komposisi agama di negara ini.
Sebagai agama mayoritas di Indonesia, Islam memainkan peran penting dalam membentuk budaya, politik, dan masyarakat negara ini. Komunitas Muslim di Indonesia sangat terpengaruh oleh perkembangan seperti meningkatnya konsumsi dan pertumbuhan ekonomi.
Menurut data dari MUI dan BPS, pada sensus penduduk 1990 jumlah umat Islam cuma mencapai 87,6 persen. Angka ini kemudian meningkat menjadi 88,2 persen pada sensus penduduk 2000. Yang memprihatinkan, angka pertumbuhan tahunan umat Islam hanya 1,2 persen. Sementara Kristen dua kali lipatnya, yakni 2,4 persen per tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kini (2024), jumlah penganut agama Islam di Indonesia sebanyak 236 juta jiwa atau 84 persen dari total populasi. Sedangkan Muslim Pakistan mencapai 240 juta jiwa atau 98 persen dari total populasi
Berikut 7 Indikator penting terkait penurunan ini meliputi :
1. Diversifikasi Agama.
Seiring waktu, terdapat peningkatan jumlah penganut agama lain, seperti Kristen, Hindu, Buddha, dan agama lokal. Hal ini menyebabkan persentase Muslim dalam total populasi terlihat menurun, meskipun secara absolut jumlah umat Islam mungkin tetap bertambah.
2. Peningkatan Konversi Agama.
Meski tidak signifikan secara keseluruhan, ada tren konversi dari Islam ke agama lain di beberapa wilayah, terutama di daerah-daerah terpencil atau di daerah mayoritas non-Muslim.
3. Pertumbuhan Populasi yang Tidak Merata.
Daerah-daerah yang mayoritas Muslim memiliki tingkat pertumbuhan populasi yang lebih lambat dibandingkan beberapa daerah dengan mayoritas non-Muslim, sehingga proporsi penganut Islam di tingkat nasional terlihat menurun.
4. Sekularisasi.
Beberapa kalangan, terutama di perkotaan dan di generasi muda, mungkin mengidentifikasi diri sebagai “tidak beragama” atau kurang terikat pada agama formal. Sekularisasi di kalangan anak muda ini bisa memengaruhi statistik agama.
Tren Sekularisasi ini dalam beberapa penelitian menunjukkan generasi muda di beberapa wilayah lebih terbuka terhadap sekularisme atau tidak berafiliasi secara resmi dengan agama apapun. Tren ini dapat mempengaruhi komposisi agama di masa depan.
5. Globalisasi dan Modernisasi.
Globalisasi membawa nilai-nilai baru yang bisa memengaruhi pandangan orang terhadap agama, terutama di kota-kota besar. Peningkatan akses informasi dan keterbukaan terhadap ide-ide global juga membuat beberapa orang mempertanyakan keyakinan agama mereka.
6. Perubahan Sosial dan Budaya.
Perubahan sosbud masyarakat ini menyebabkan perubahan nilai dan identitas, termasuk dalam hal keyakinan beragama. Hal ini bisa memengaruhi persepsi orang tentang agama dan praktik keagamaannya.
7. Perubahan dalam Pencatatan Agama.
Dimasa lalu, banyak orang secara otomatis dicatat sebagai Muslim karena dianggap sebagai bagian dari identitas budaya atau keluarga, meskipun mungkin mereka tidak sepenuhnya menjalankan agama tersebut. Saat ini, orang-orang lebih terbuka untuk menyatakan identitas agama mereka yang sebenarnya.
Kesimpulannya, Islam merupakan aspek penting dalam masyarakat dan budaya Indonesia, dengan sejarah yang kaya dan karakteristik yang unik. Memahami Islam di Indonesia sangat penting bagi siapa pun yang tertarik mempelajari lanskap keagamaan yang kompleks dan beragam di negara ini.
Jadi tak masalah, meskipun penganut agama Islam menurun, bukan masalah kuantitas yang jadi soal, namun masalah kualitas yang harus terus dibenahi oleh umat Islam di negara yang terkenal Bhineka ini. (*)
Sumber : (BPS, MUI, Kemenag RI, AI, Republika, Reuters)






