Caption : ist
Hariannarasi.com, Lampung Timur – Matahari di langit Lampung Timur belum lagi tegak lurus ketika riuh suara manusia memecah keheningan di gerbang Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Selasa pagi (14/11).
Ribuan warga yang tergabung dalam Aliansi Desa Penyangga tidak datang untuk berwisata. Mereka hadir membawa luka lama yang kembali menganga, konflik menahun antara manusia dan sang penguasa rimba, gajah sumatera.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sambil melangkah dalam barisan long march, massa membentangkan berbagai poster yang menyuarakan kegelisahan mereka. “Stop Konflik Gajah dan Manusia” dan “Kami Hanya Ingin Melindungi Ladang Kami” menjadi pesan utama yang diusung.
Namun, ada satu pemandangan yang menyayat hati, poster wajah almarhum Darusman, mantan Kepala Desa Braja Asri, turut diarak. Darusman adalah pengingat nyata betapa mahalnya harga yang harus dibayar warga, ia tewas diamuk gajah pada Desember 2025 silam saat mencoba menyelamatkan tanaman warga.
Bagi masyarakat desa penyangga, gajah bukanlah musuh yang harus dibasmi. Hal ini ditegaskan oleh Eko Waluyo, salah satu orator yang suaranya bergetar menahan emosi. Ia menekankan bahwa warga sangat memahami arti konservasi dan konsekuensi hukum jika menyakiti satwa yang dilindungi itu.
”Gajah itu hidup bersama kami. Kami tahu cara berdampingan, dan kami tahu cara melindunginya. Tapi hingga hari ini, kami tidak pernah menggunakan senjata karena kami menghormati hukum. Namun, sampai kapan ladang kami terus menjadi tumbal?” seru Eko di hadapan massa.
Ia menambahkan bahwa tuntutan warga sebenarnya sederhana namun mendasar: kepastian. Mereka meminta langkah nyata dan berkelanjutan dari pihak otoritas agar konflik ini tidak terus berulang seperti lingkaran setan. “Jangan sampai kesabaran kami benar-benar habis,” tegasnya, sebuah peringatan halus namun tajam bagi para pemangku kebijakan.
Warisan Konflik yang Tak Kunjung Usai
Persoalan ini memang bukan barang baru. Budi, orator lainnya, menceritakan bagaimana konflik ini telah menjadi “warisan” turun-temurun. Sejak ia lahir, bayang-bayang gajah liar yang masuk ke permukiman telah menjadi bagian dari keseharian yang mencekam.
”Kami sudah berkonflik sejak lahir. Kepala desa kami jadi korban, orang tua kami jadi korban. Kami hanya ingin hidup tenang di tanah kami sendiri tanpa harus takut kehilangan nyawa atau mata pencaharian saat fajar menyingsing,” ungkap Budi dengan nada getir.
Di sisi lain, aparat keamanan dari Polres Lampung Timur dan Kodim 0429 bersiaga penuh namun tetap mengedepankan pendekatan humanis.
Kapolres Lampung Timur, AKBP Heti Patmawati, turun langsung memantau jalannya aksi. Ia memberikan ruang seluas-luasnya bagi warga untuk menumpahkan keluh kesah yang selama ini terpendam.
”Silakan sampaikan aspirasi dan orasi dengan tertib. Kami di sini untuk mengawal agar semua pesan sampai ke tujuan dengan aman,” ujar AKBP Heti, mengapresiasi kedewasaan massa yang melakukan aksi secara damai meski membawa tuntutan yang berat.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih berharap ada solusi konkret dari pihak Balai TNWK, bukan sekadar janji di atas kertas atau seremoni tanpa realisasi. Sebab bagi warga desa penyangga, rimba Way Kambas seharusnya menjadi berkah, bukan sumber nestapa yang tak kunjung reda. (*)






