Caption : Prof. Ryaas Rasyid (Dok. Podcast YT Forum Keadilan Madilog).
Hariannarasi.com, Jakarta – Guru Besar (Gubes) Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Prof. Ryaas Rasyid melontarkan kritik keras terhadap Presiden Prabowo Subianto.
Ia menilai Prabowo tidak memiliki kapasitas sebagai pemimpin pemerintahan karena tidak memahami ilmu pemerintahan pada tingkat paling dasar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pernyataan itu disampaikan Ryaas dalam siniar di kanal YouTube Forum Keadilan yang tayang Kamis (29/10/2026).
“Tidak memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin pemerintahan. Mungkin karena tidak mengerti ilmu pemerintahan, jadi ilmu pemerintahan paling basic pun dia tidak dapat,” kata Ryaas.
Soroti Efisiensi Anggaran dan Pemangkasan TKD
Ryaas menilai kekeliruan berpikir itu berimplikasi langsung pada kebijakan. Ia menyebut ada logic fallacy atau kesalahpahaman dalam memahami persoalan pemerintahan yang kemudian menjadi basis pembuatan kebijakan dan merugikan masyarakat.
Salah satu kebijakan yang disorot adalah efisiensi anggaran pemerintah pusat yang berujung pada pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD).
“Sekarang enggak perlu Anda menunggu lima tahun. Sekarang ini kita sudah rugi dengan efisiensi pemerintahan pusat dengan pemenggalan jumlah transfer ke daerah itu kan merugikan seluruh Indonesia,” ungkapnya.
Menurut Ryaas, beban tersebut sudah dirasakan dalam dua tahun pertama pemerintahan Prabowo, tanpa perlu menunggu hingga akhir masa jabatan.
Dampak Jangka Panjang
Guru Besar yang juga mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara itu memperingatkan bahwa dampak kebijakan yang keliru tidak selalu dirasakan secara langsung.
“Sebagian itu akan terasa nanti 10 tahun yang akan datang dari kekeliruan mengelola sekarang ini,” ucap Ryaas.
Ia bahkan menyebut persoalan yang ditinggalkan akan melampaui usia kepemimpinan Prabowo sendiri.
“Ini masalah akan ditinggalkan oleh Pak Prabowo akan lebih panjang daripada umurnya sendiri,” pungkas Ryaas.
Kritik Kepemimpinan Lemah
Kritik Ryaas tidak hanya soal kapasitas teknokratis, dalam podcast di kanal Akbar Faizal Uncensored, ia menyatakan kerusakan yang meluas di sektor politik tidak terlepas dari lemahnya kepemimpinan yang gagal memegang kendali reformasi.
Ia menilai arah reformasi telah dikesampingkan pada kepemimpinan di tingkat tertinggi, di mana berbagai kebijakan gagal mengatasi korupsi, tata kelola buruk, dan rendahnya etika pemerintahan.
Dalam konteks yang lebih luas, Ryaas juga melontarkan peringatan keras tentang masa depan negara. Ia menyebut kondisi Indonesia bukan sekadar gejala, melainkan kepastian menuju kebubaran jika fondasi negara terus melemah.
“Ujung dari negara ini adalah bubar. Indonesia tidak punya masa depan. Sesuatu yang kita lihat secara nyata itu bukan tanda-tanda. Itu adalah kepastian,” kata Ryaas di channel YouTube Forum Keadilan Madilog.
Ia menilai satu-satunya faktor yang masih menghambat perpecahan adalah soliditas TNI dan Polri.
“Cuma satu saja yang membuat ini agak terhambat, pembubaran Republik Indonesia ini, karena tentara dan polisi belum berontak,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, Istana belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Prof. Ryaas Rasyid tersebut. (*)






