Caption : Ilustrasi
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Cuaca ekstrem melanda Provinsi Lampung menyusul lonjakan suhu udara yang mencapai rekor maksimum 38,2 derajat Celsius di wilayah Kota Gajah, Lampung Tengah.
Peningkatan suhu drastis ini memicu peringatan kewaspadaan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Lampung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan data BMKG Stasiun Klimatologi Lampung hingga akhir Oktober 2026, suhu udara rata-rata di Lampung tercatat mencapai 29 derajat Celsius.
Angka ini melonjak 1,8 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan suhu normal bulan Oktober yang biasanya berada pada angka 27,2 derajat Celsius.
Koordinator Bidang Observasi, Data, dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Lampung, Eva Nurhayati, menjelaskan bahwa fenomena ini disebabkan oleh posisi gerak semu matahari, minimnya tutupan awan, dan musim kemarau yang berkepanjangan.
”Kondisi langit yang cerah tanpa hambatan awan membuat radiasi sinar matahari dapat mencapai permukaan bumi secara lebih leluasa, sehingga proses pemanasan berlangsung jauh lebih intens,” kata Eva, Kamis (22/10/2026).
Merespons kondisi ekstrem tersebut, Ketua IDI Wilayah Lampung, dr. Josi Harnos, memperingatkan masyarakat mengenai ancaman ganda dari sisi lingkungan dan kesehatan fisik. Peningkatan suhu memicu potensi kekeringan, krisis air bersih, serta meledaknya populasi lalat.
Dari sisi kesehatan, panas ekstrem memaksa tubuh manusia beradaptasi lebih keras karena meningkatnya ancaman dehidrasi.
”Paparan panas ekstrem meningkatkan laju penguapan cairan tubuh hingga dua kali lipat yang berisiko memicu dehidrasi. Gejala awalnya ditandai dengan rasa haus berlebihan, lemas, pusing, hingga sakit kepala,” tegas dr. Josi, Jumat (23/10/2026).
Untuk mengantisipasi masalah kesehatan, IDI Lampung mendesak masyarakat untuk menaikkan asupan air putih dari dua liter menjadi minimal tiga liter per hari.
Tingkat dehidrasi dapat dipantau mandiri melalui warna urine, warna keruh menandakan tubuh kekurangan cairan, sedangkan kuning muda menandakan cairan tercukupi.
Selain dehidrasi, cuaca kering dan berdebu dapat memicu iritasi hidung hingga mimisan. Dokter Josi menyarankan penggunaan masker saat beraktivitas di luar.
Jika menggunakan masker kain, ia menganjurkan untuk sedikit melembapkannya dengan air bersih guna menjaga kelembapan mukosa hidung dari hirupan udara panas.
”Masyarakat juga diminta menutup rapat makanan agar terhindar dari lalat, dan memastikan air sumur direbus hingga matang sebelum dikonsumsi guna menghindari alergi kulit maupun gangguan pencernaan,” tambahnya.
BMKG memprediksi suhu udara ekstrem ini masih akan berlangsung hingga akhir Oktober 2026 dan baru berangsur normal pada bulan November.
Masyarakat diimbau untuk membatasi aktivitas luar ruangan di siang hari dan selalu menggunakan pelindung tubuh seperti payung atau topi. (*)






