Caption : Erupsi Gunung Anak Krakatau yang berhasil difoto dari kokpit pesawat diketinggian 50 ribu kaki oleh Kapten Ken, pilot sekaligus fotografer udara.
Hariannarasi.com, Lampung Selatan – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali meningkat yang memicu hujan abu vulkanis di tujuh kecamatan dalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan dan Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, pada Sabtu (5/9/2026).
Di Kabupaten Lampung Selatan, paparan abu vulkanis pekat menyelimuti empat kecamatan, yakni Kecamatan Bakauheni, Penengahan, Kalianda, dan Rajabasa, termasuk kawasan Pulau Sebesi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanggamus melaporkan dampak abu serupa menutupi tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Pematang Sawa, Kelumbayan, dan Cukuh Balak.
Paparan abu juga dilaporkan hingga menyentuh kawasan permukiman di wilayah Pesisir Barat.
Kondisi hujan abu yang telah terjadi secara intensif ini mulai memicu gangguan kesehatan pada masyarakat, seperti sesak napas dan iritasi mata.
Debu vulkanis dari gunung dilaporkan telah masuk ke dalam rumah, menempel di perabotan tangga, hingga mengotori fasilitas umum dan sekolah.
Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan langsung menyiagakan tenaga kesehatan puskesmas di wilayah terdampak.
Dinas Kesehatan setempat juga mendistribusikan total 4.500 masker, dengan rincian 1.500 masker untuk warga di sekitar Dermaga Canti dan 3.000 masker untuk warga Pulau Sebesi.
Pemkab mengimbau seluruh warga untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama bagi lansia, balita, dan ibu hamil.
Warga juga diwajibkan menggunakan masker dan kacamata saat beraktivitas di luar ruangan, serta menutup rapat makanan dan sumber air minum agar terhindar dari kontaminasi vulkanis.
Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Suwarno, menyatakan bahwa gunung api tersebut saat ini ditetapkan pada status Level III atau Siaga.
”Dengan status siaga, masyarakat maupun wisatawan tidak diizinkan mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif,” ujar Suwarno, Sabtu (5/9).
Suwarno menambahkan, peningkatan letusan terjadi sejak Jumat (4/9) malam dengan rentetan erupsi menerus bergaya lava fountain (lava air mancur) yang terus berlangsung hingga Sabtu pagi.
Kolom abu hitam pekat setinggi 300 meter dari atas puncak terpantau terbawa angin ke arah barat dan barat laut. Erupsi ini turut diiringi suara dentuman dan gemuruh yang menyebabkan sejumlah kamera pemantau (CCTV) di area kawah mati akibat hantaman material vulkanik.
Di wilayah yang berbeda, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Tanggamus, Hendarman Wahid, menegaskan, pihaknya terus bersiaga dan melakukan pemantauan kondisi wilayah terdampak.
Hendarman meminta masyarakat tetap waspada namun tidak panik, serta hanya merujuk pada informasi resmi kebencanaan terkait letusan Gunung Anak Krakatau. (*)
Berikut video lengkapnya:






