Caption : Istimewa (Dok. BBC)
Hariannarasi.com, Kalimantan – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda Pulau Kalimantan memicu krisis kabut asap parah yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat dan kelancaran aktivitas harian.
Berdasarkan pantauan satelit, wilayah Kalimantan terpantau penuh dengan titik api yang melonjak drastis hingga mencapai 1.615 titik pada 19 Agustus 2026, meningkat tajam dari 882 titik pada hari sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kabut asap pekat dilaporkan tidak hanya menyelimuti jalan raya, tetapi juga menembus masuk ke dalam permukiman warga.
Di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, konsentrasi partikulat halus (PM2.5) pada Rabu (19/8) dini hari menyentuh angka lebih dari 400 mikrogram per meter kubik, yang dikategorikan sangat berbahaya oleh BMKG.
Kondisi udara yang kotor ini memicu lonjakan penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Banjarbaru, Siti Ningsih, mencatat kasus ISPA naik drastis melampaui 1.000 kasus per pekan, dengan kelompok paling rentan meliputi anak-anak, ibu hamil, dan lansia.
Di Palangka Raya, seorang warga bernama Hetty (46) melaporkan anaknya yang memiliki riwayat flek paru telah batuk-batuk selama dua minggu terakhir akibat terpapar asap.
Sedangkan, di Banjarbaru, Sri Wahyuni (32) yang tengah hamil tiga bulan mengaku mengalami batuk dan sesak napas akibat pekatnya asap yang rutin menyelimuti saat waktu subuh.
Kerugian Ekonomi dan Kelumpuhan Aktivitas
Bencana karhutla ini juga memukul sektor ekonomi warga dan melumpuhkan mobilitas publik.
Dinas Pendidikan Banjarbaru telah menerbitkan surat edaran bagi sekolah tingkat PAUD hingga SMP untuk mengundurkan jam masuk menjadi pukul 09.00 WITA apabila kabut asap di pagi hari terlalu tebal.
Selain itu, jarak pandang yang sangat terbatas telah memicu kecelakaan lalu lintas, salah satunya tabrakan antara truk pengangkut sepeda motor dengan truk fuso pada 19 Agustus.
Pengendara seperti Dony Restu (22) mengaku hanya bisa melaju 30-40 km/jam seraya menghidupkan lampu kabut dan klakson untuk menghindari tabrakan.
Api Karhutla semakin mendekati area permukiman warga. Di Landasan Ulin Selatan, seorang peternak bernama Abdul Kholik merugi puluhan juta rupiah setelah kandang dan ternak ayamnya ludes terbakar akibat material abu panas (kelelatu) yang terbang tertiup angin ke atap kandangnya.
Tim gabungan dari Manggala Agni, Basarnas, Kepolisian, dan Kodim terus berjibaku mengendalikan api yang meluas cepat.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kalimantan, Yudho Shekti Mustiko, menegaskan, prioritas pemadaman saat ini difokuskan pada area yang berdekatan dengan masyarakat, bandara, serta objek vital nasional seperti Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kendala terbesar di lapangan adalah karakteristik daratan Kalimantan yang memiliki sekitar 4,5 juta hektare lahan gambut.
Sementara, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Banjarbaru, Harun Arrasyid, memaparkan bahwa api di lahan gambut menimbulkan kepulan asap tebal.
Kepulan asap capai engan indeks polusi 170-480 µg/m³, dan membutuhkan waktu berhari-hari untuk benar-benar dipadamkan hingga ke dasar lahan,” ungkapnya. (*)






