Caption : Istimewa
Hariannarasi.com, Tanggamus – Delapan siswa SMP Negeri 1 Talang Padang, Kabupaten Tanggamus, dilarikan ke Puskesmas Talang Padang lantaran mengalami mual, muntah, sakit kepala, hingga diare pada Rabu (22/7/2026).
Insiden ini diduga akibat keracunan makanan setelah para siswa mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Guru Bimbingan Konseling (BK) SMPN 1 Talang Padang, Dian, menjelaskan bahwa gejala pertama kali muncul sekitar pukul 10.00 WIB usai jam makan siang. Awalnya, tiga siswa kelas VII mengeluh sakit perut dan muntah-muntah.
”Karena terus muntah dan buang air besar, kami bawa ke Puskesmas. Tak lama kemudian, lima siswa lain menyusul dengan keluhan serupa sehingga total ada delapan anak,” ujar Dian.
Merespons kejadian tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus, dr. Herry Novrizal, langsung meninjau ke Puskesmas.
Ia menjelaskan, lima siswa telah diperbolehkan pulang setelah mendapat penanganan medis dan kondisinya membaik. Sementara itu, tiga siswa lainnya masih harus dirawat inap karena mengalami gejala tingkat sedang.
Terkait kepastian penyebab keracunan, Kepala Puskesmas Talang Padang, dr. Indah, menyatakan pihaknya belum bisa menarik kesimpulan awal.
Sampel makanan saat ini telah dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) di Bandar Lampung untuk memastikan apakah penyebabnya murni karena bakteri, toksin, atau faktor lain.
Di sisi lain, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sinar Betung, Muzaki, meminta masyarakat untuk tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa menu MBG adalah penyebab tunggal insiden ini.
”Kami masih menunggu hasil laboratorium. Ada informasi juga bahwa beberapa siswa sempat mengonsumsi sate yang dibeli di sekolah. Selain itu, dari 13 sekolah yang menerima layanan MBG dari kami, hanya di SMPN 1 Talang Padang yang mengalami kejadian ini,” tegas Muzaki.
Hingga saat ini, pihak SPPG Sinar Betung menyatakan kesiapannya untuk kooperatif dalam proses penyelidikan uji laboratorium. Hasil lab tersebut akan menjadi acuan evaluasi agar insiden serupa tidak terulang kembali. (*)






