Caption : Ilustrasi
Hariannarasi.com, Bandar Lampung – Nilai tukar rupiah kembali bergejolak hebat. Pada pertengahan Mei 2026, mata uang Garuda kembali tertekan hingga menembus level psikologis Rp 17.600 per dollar AS.
Rentetan kombinasi tekanan eksternal dan domestik seolah sedang menguji seberapa tangguh fondasi ekonomi Indonesia menahan gempuran pasar keuangan global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah kecemasan dan riuhnya spekulasi pasar hari ini, ingatan kolektif bangsa ini seakan ditarik mundur ke belakang—kembali ke salah satu episode ekonomi paling gelap sekaligus paling inspiratif di Republik ini: Krisis Moneter 1998.
Pada masa itu, ketika ekonomi nyaris runtuh tanpa sisa, seorang insinyur penerbangan maju ke gelanggang. Ia membuktikan bahwa asa selalu ada di tengah krisis.
Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie, Presiden ke-3 Republik Indonesia, mencatatkan sejarah monumental. Ia hanya membutuhkan waktu 17 bulan untuk membalikkan keadaan, memulihkan kepercayaan, dan membawa rupiah yang hancur lebur kembali bernilai.
Titik Nadir dan Transisi
Mari memutar waktu ke tanggal 21 Mei 1998, kondisi Indonesia saat itu berada di titik nadir. Nilai tukar rupiah terjun bebas, terpuruk dari level Rp 2.500-an sebelum krisis hingga menyentuh kisaran Rp 16.800 hingga nyaris Rp 17.000 per dollar AS.
Inflasi melonjak tak terkendali bak api yang menyambar bensin, bank-bank limbung didera krisis likuiditas, dan kepercayaan publik maupun internasional terhadap pemerintah lenyap tak bersisa.
Di tengah turbulensi politik dan ekonomi yang mengerikan itu, Soeharto mundur. Tampuk kepemimpinan nasional beralih ke pundak BJ Habibie.
Awalnya, pasar merespons dengan skeptisisme tingkat tinggi. Habibie adalah seorang teknokrat tulen, seorang jenius di bidang konstruksi pesawat terbang, namun sama sekali tidak memiliki rekam jejak atau latar belakang sebagai ekonom. Bagaimana mungkin seorang ahli aerodinamika bisa menavigasi badai ekonomi makro yang kompleks?
Namun, Habibie menyadari satu hal yang fundamental, ekonomi bukan sekadar soal deretan angka, melainkan soal trust (kepercayaan).
Resep Kepercayaan ala Sang Insinyur
Sadar bahwa pasar membutuhkan sinyal positif yang kuat, Habibie tidak bekerja dengan dogma ekonomi yang kaku, melainkan dengan pragmatisme dan logika sistematis ala insinyur. Ia mengurai kerumitan krisis menjadi langkah-langkah konkret dan radikal.
Langkah pertama yang paling revolusioner adalah memberikan independensi penuh kepada Bank Indonesia (BI). Di era Orde Baru, bank sentral kerap menjadi instrumen pemerintah yang disetir untuk membiayai proyek-proyek defisit.
Di tangan Habibie, intervensi itu dihentikan. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia disahkan, yang menggarisbawahi kebebasan BI dari campur tangan pemerintah maupun pihak lain. Keputusan ini memberi pesan tegas ke dunia internasional, moneter Indonesia dikelola secara profesional.
Kedua, Habibie merestrukturisasi perbankan yang kolaps. Ia mengandalkan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) untuk menyortir bank yang bisa diselamatkan dan menutup yang sudah tak tertolong.
Ketiga, dan mungkin yang paling berani, adalah keputusannya untuk membuka keran demokrasi seluas-luasnya. Ia melepaskan tahanan politik dan memberikan kebebasan pers.
Demokrasi yang sehat rupanya menjadi katalis bagi pemulihan ekonomi, mengembalikan simpati dan kepercayaan komunitas internasional serta lembaga donor seperti IMF dan Bank Dunia.
Angka yang Berbicara: Keajaiban 17 Bulan
Kebijakan-kebijakan strategis tersebut tidak langsung membuahkan hasil dalam semalam, tetapi secara pasti, pasar mulai percaya. Aliran modal yang awalnya kabur, perlahan kembali masuk.
Hasilnya mencengangkan. Rupiah yang pada awal masa jabatannya sempat terhempas di kisaran Rp 16.800 per dollar AS, perlahan merangkak naik dengan pasti.
Pada akhir masa kepemimpinannya yang sangat singkat, hanya 17 bulan rupiah berhasil menguat sangat tajam hingga bertengger di level sekitar Rp 6.500 per dollar AS. Ini adalah apresiasi mata uang yang hampir tidak ada duanya dalam sejarah modern pasca-krisis.
Tidak hanya sektor moneter, sektor riil pun berbalik arah, ekonomi Indonesia yang pada tahun 1998 mengalami kontraksi (pertumbuhan minus) sangat dalam hingga 13,1 persen, berhasil ditarik kembali ke zona hijau. Pada tahun 1999, di bawah kemudi kabinetnya, ekonomi Indonesia kembali tumbuh positif 0,79 persen.
Refleksi untuk Gejolak Rupiah 2026
Kini, di tahun 2026, ketika rupiah kembali menguji nyali para pelaku pasar dengan menyentuh level Rp 17.600 per dollar AS, legacy (warisan) kepemimpinan BJ Habibie seolah menjadi alarm pengingat.
Krisis mungkin berbeda bentuk dan pemicunya, hari ini kita mungkin menghadapi lonjakan suku bunga global, pergeseran geopolitik, atau ketidakpastian rantai pasok dunia.
Namun, resep dasar dari keajaiban 17 bulan Habibie tetap relevan, fundamental yang kuat harus dibangun di atas independensi kelembagaan, respons kebijakan yang terukur dan tidak panik, serta yang terpenting, merawat kepercayaan dari publik dan pasar global.
Seperti pesawat yang sedang melintasi turbulensi hebat, Indonesia hari ini membutuhkan ketenangan dan presisi dari pilotnya. Dan sejarah telah membuktikan, dengan kepemimpinan yang tepat, kita pernah terbang keluar dari badai yang jauh lebih buruk. (*)






