Caption : Ilustrasi
Hariannarasi.com, Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim telah mengadakan pembicaraan yang produktif dengan Iran terkait penyelesaian konflik di Timur Tengah dan menunda rencana serangan militer terhadap negara tersebut. Namun, klaim ini secara langsung dibantah oleh Pemerintah Iran.
Melalui unggahannya di jaringan media sosial TruthSocial, Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah melakukan diskusi yang mendalam, terperinci, dan konstruktif selama dua hari terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai tindak lanjut dari pertemuan yang diklaim tersebut, Trump menginstruksikan Departemen Perang AS untuk menunda segala serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari.
Penundaan ini, menurut Trump, bergantung pada keberhasilan diskusi yang sedang berlangsung.
Sebelumnya, pada 21 Maret lalu, Trump sempat mengultimatum Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam, dengan ancaman akan menghancurkan berbagai pembangkit listrik Iran jika tuntutan itu tidak dipenuhi.
Pernyataan terbaru Trump mengenai adanya negosiasi ini sempat direspons positif oleh pasar global. Harga minyak Brent dilaporkan turun 13% menjadi sekitar US$96 per barel, sementara Indeks FTSE 100 naik 0,5% setelah sebelumnya sempat anjlok.
Akan tetapi, Kementerian Luar Negeri Iran segera merilis pernyataan yang membantah terjadinya negosiasi apa pun dengan pihak Washington.
”Kami membantah apa yang dikatakan Presiden AS Donald Trump mengenai adanya negosiasi antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran,” tegas Kementerian Luar Negeri Iran.
Dikutip oleh CBS News, pihak kementerian menambahkan bahwa Iran tetap berpegang teguh pada posisinya untuk menolak segala jenis negosiasi sebelum tujuan mereka dari perang ini tercapai.
Klaim sepihak Trump ini menyisakan sejumlah tanda tanya besar. Wartawan BBC di Gedung Putih, Bernd Debusmann Jr., melaporkan klaim tersebut sangat bertolak belakang dengan nada agresif yang disuarakan kedua negara sepanjang akhir pekan lalu.
Selain itu, fokus utama dari perundingan yang diklaim Trump tidak jelas—apakah menyangkut program rudal balistik, pengayaan nuklir, gencatan senjata, atau status Selat Hormuz.
Sebagian besar pakar menilai Iran tidak mungkin menyerahkan kendali atas Selat Hormuz, karena wilayah tersebut merupakan kartu truf penting bagi Teheran dalam konflik ini. Saat ini, komunitas internasional masih menantikan perkembangan lebih lanjut terkait ketegangan kedua negara. (*)






